JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Suharti, mengungkapkan bahwa dalam satu dekade terakhir, telah terjadi perbaikan signifikan dalam sistem pendidikan yang mengarah pada peningkatan akses pendidikan yang lebih adil dan adaptif. Aspek ini menghasilkan penurunan disparitas dalam akses pendidikan, yang merupakan salah satu tantangan utama yang dihadapi oleh masyarakat. Suharti menekankan pentingnya program Kartu Indonesia Pintar (*KIP*) dalam usaha membantu anak-anak yang mengalami putus sekolah, terutama akibat dampak dari pandemi. Selama sepuluh tahun berdirinya program ini, banyak siswa yang terbantu untuk melanjutkan pendidikan mereka. Ini juga berkontribusi dalam mengurangi kesenjangan pendidikan antara anak-anak dari keluarga kaya dan miskin. "Kami memberikan dukungan kepada keluarga kurang mampu dengan membantu membayar biaya kuliah. Hal ini bertujuan agar anak-anak dari latar belakang ekonomi yang lebih rendah memiliki keinginan yang lebih besar untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi," ujar Suharti dalam sebuah webinar bertajuk "10 Tahun Bersinergi Membangun SDM Nasional." Suharti juga menjelaskan bahwa di wilayah-wilayah yang termasuk dalam kriteria 3T (tertinggal, terdepan, dan terpencil), kementeriannya telah melakukan berbagai upaya afirmatif untuk meningkatkan mutu pendidikan. Berbagai langkah tersebut meliputi penguatan kapasitas bagi para guru melalui program *upskilling* dan *reskilling*, pelatihan Pendidikan Profesi Guru (*PPG*), serta memberikan kesempatan pendidikan tinggi kepada anak-anak berprestasi. Di samping itu, tindakan intervensi juga telah dilakukan melalui pelaksanaan Asesmen Nasional untuk menilai dan memberikan bantuan kepada sekolah-sekolah yang memerlukan perhatian khusus. Suharti menambahkan, "Program seperti Kampus Mengajar tidak hanya memberikan bantuan kepada guru di daerah 3T, tetapi juga menginspirasi siswa dengan kehadiran mahasiswa." Lebih lanjut, implementasi Kurikulum Merdeka selama tiga tahun juga menunjukkan dampak positif. Sekolah-sekolah yang telah menerapkan kurikulum ini selama tiga tahun menunjukkan peningkatan signifikan dalam kemampuan literasi dan numerasi, dibandingkan dengan sekolah-sekolah yang hanya baru menerapkannya. "Sekolah-sekolah yang konsisten menerapkan Kurikulum Merdeka selama tiga tahun memiliki hasil yang lebih baik dalam literasi dan numerasi dibandingkan yang baru melaksanakannya selama dua tahun, apalagi satu tahun," tegasnya. Selain itu, Suharti menjelaskan bahwa program pendidikan vokasi juga berperan dalam menurunkan angka pengangguran di Indonesia. Dengan mengacu pada data Badan Pusat Statistik (*BPS*), Suharti menyoroti peningkatan jumlah lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (*SMK*) yang berhasil mendapatkan pekerjaan dalam waktu satu tahun setelah kelulusan. Data tersebut menunjukkan bahwa proporsi lulusan SMK yang bekerja setelah satu tahun kelulusan meningkat dari 32,1 persen pada tahun 2021 menjadi 38,4 persen pada tahun 2023. ANTARA