**Borneonews - Sukabumi,** Penjabat (Pj) Gubernur Jawa Barat, Bey Machmudin, mengakui bahwa pemerintah memiliki kekurangan dalam hal sosialisasi mengenai dampak serta persyaratan yang berkaitan dengan pekerjaan di luar negeri. Pengakuan ini disampaikannya saat melakukan kunjungan ke rumah Syamsul Diana Ahmad, seorang korban Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) yang merupakan warga Kampung Parungseahberong, Desa Parungseah, Kecamatan Sukabumi, yang meninggal di Kamboja.
Bey Machmudin menjelaskan bahwa sosialisasi terkait mencari pekerjaan yang aman dan legal di luar negeri masih sangat minim. Ia menyatakan, "Kami akui pemerintah kurang dalam hal sosialisasi mengenai bagaimana cari kerja yang benar di luar negeri." Hal ini menjadi perhatian penting, karena banyak masyarakat yang terdesak oleh situasi ekonomi serta minimnya peluang pekerjaan di dalam negeri, sehingga memilih untuk mencari penghidupan di luar Indonesia.
Sayangnya, banyak dari mereka yang mengambil jalur ilegal, yang pada akhirnya menempatkan mereka dalam situasi berbahaya dan bahkan menjadi korban TPPO. Oleh sebab itu, Pj Gubernur mengimbau masyarakat untuk berhati-hati dan tidak mudah percaya pada iklan-iklan penawaran terkait lowongan pekerjaan. Pengalaman dari kasus yang menimpa Syamsul menunjukkan bahwa ia berangkat bekerja ke luar negeri tidak melalui jalur penyalur resmi, melainkan melalui tawaran teman yang telah berada di negara tujuan.
Di samping itu, Bey juga mengungkapkan rasa dukacita yang mendalam atas kejadian tersebut dan menyampaikan belasungkawa kepada keluarga almarhum Syamsul. Ia mendorong masyarakat untuk merujuk ke penyalur resmi dan melakukan konsultasi terlebih dahulu dengan Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) setempat sebelum mengambil keputusan untuk bekerja di luar negeri.
Ibu kandung Syamsul, Ilah Jamilah, yang berusia 49 tahun, memberikan informasi bahwa Syamsul awalnya berencana untuk bekerja di Singapura. Syamsul berangkat pada 6 Juli 2024, namun setelah 23 hari, pada 2 Agustus, keluarganya menerima kabar duka mengenai kematiannya. Kejutan datang ketika diketahui bahwa Syamsul bukan bekerja di Singapura melainkan di Kamboja. Hal ini ditemukan melalui dokumen rumah sakit yang mengkonfirmasi bahwa penyebab kematiannya adalah serangan jantung.
Setelah proses panjang yang berlangsung selama 43 hari, jenazah Syamsul akhirnya berhasil dipulangkan ke rumah duka di Kampung Parungseahberong pada 13 September. Pemakaman Syamsul dilaksanakan pada keesokan harinya, 14 September, di tempat pemakaman umum yang tidak jauh dari tempat tinggalnya, menandai perjalanan akhir bagi seorang korban yang terjebak dalam situasi yang memprihatinkan.
ANTARA
Pj Gubernur Jabar Soroti Kurangnya Sosialisasi Kerja Luar Negeri
Bagikan:

BOGOR –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Jet Tempur AS Cegat Pesawat umum Dekat Kediaman Trump di Florida
Peneliti Jepang Temukan Tutup Botol Bawa Ekosistem Laut Filipina
Wembanyama Bawa Spurs Kalahkan Mavericks 122-106
Imam Besar: Serangan Berulang ke Mekkah Bongkar Niat Kriminal Houthi
Kemenpar-BPOLBF Gandeng Agen Wisata Tiongkok Perluas Pasar Labuan Bajo
Mendagri Prancis: Ribuan Orang Ditahan saat Demonstrasi Lanjutan
Komentar (0)
Memuat komentar…







