JAKARTA –
**Borneonews - Beijing**, Jumlah pengunjung yang hadir di stan Indonesia pada Pameran Perdagangan Jasa Internasional China (CIFTIS) 2024 mengalami peningkatan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya. Koordinator Fungsi Penerangan Sosial Budaya di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Beijing, Dewi Avilia, menyatakan bahwa tahun lalu, stan mereka hanya dikunjungi sekitar 2.000 orang. Namun, pada tahun ini, angka tersebut melonjak menjadi lebih dari 2.500 pengunjung. Kenaikan ini sejalan dengan bertambahnya 1.000 pengikut KBRI di *Weibo*. KBRI Beijing mengusung tema "Layanan Global, Kemakmuran Bersama" dalam CIFTIS 2024, yang berlangsung dari 12 hingga 16 September 2024 di China National Convention Center (CNNC) dan Shougang Park. Stan Indonesia menampilkan foto-foto objek wisata prioritas di Indonesia yang lebih dari sekadar Bali, serta produk khas Indonesia seperti kerajinan kayu gaharu yang dijual langsung kepada pengunjung. CIFTIS 2024 mengambil tempat di area seluas 8,63 kilometer persegi yang dulunya merupakan kawasan industri, yang kini telah ditransformasikan menjadi daerah percontohan untuk keperluan hijau, olahraga, dan kegiatan kreatif di Beijing. Stan KBRI terletak di Shougang Park. Dewi juga mengungkapkan bahwa jumlah 'follower Weibo' KBRI bertambah dari 47.000 menjadi 48.000, dan ada 530 peserta yang mengisi survei terkait Indonesia. Selama CIFTIS 2023, total pengunjung mencapai 250 ribu orang, yang bertepatan dengan libur *mid-autumn festival* di China. “Panitia pameran memberikan insentif bagi pengunjung untuk mengumpulkan cap dari setiap stan demi mendapatkan hadiah tertentu. Hal ini membuat pengunjung tertarik untuk melihat dan mendengarkan promosi destinasi wisata Indonesia di stan kami,” tambah Dewi. Pada hari kedua pameran, Dewi melakukan presentasi di panggung utama yang membahas destinasi pariwisata utama seperti Danau Toba, Candi Borobudur, dan Gunung Ijen. Ia menegaskan, “Indonesia tidak hanya memiliki Bali saja.” Stan KBRI juga menampilkan foto-foto beberapa objek wisata menarik lainnya, termasuk Pantai Merah, Pantai Likupang, dan Desa Wae Rebo. Di sisi lain, Itah Julianti, pemilik Yida Agarwood, yang memamerkan produk olahan dari kayu gaharu, memperkirakan omzet yang dihasilkan dari CIFTIS 2024 mencapai 32 ribu yuan. "Dupa dalam berbagai bentuk, seperti batang, lilit, dan segitiga, menjadi produk terlaris di antara masyarakat China. Mereka sangat menyukai aroma gaharu yang dikenal baik untuk kesehatan, membantu mengatasi insomnia, dan memberikan relaksasi. Selain itu, aksesoris seperti tasbih dan gelang dari gaharu juga sangat diminati," ujar Itah. Kayu gaharu yang ditawarkan berasal langsung dari Tarakan, Kalimantan Utara. Kayu ini, yang berumur ratusan hingga ribuan tahun, diolah menjadi berbagai produk, termasuk obat herbal, parfum, aroma terapi, hingga dupa. Itah menjelaskan, "Kayu gaharu sangat berharga di China dan harganya ditentukan oleh kadar minyak yang dimilikinya." Stan Indonesia terletak di antara stan Iran dan Yordania di hall 10, yang dikhususkan untuk negara-negara anggota *Belt and Road Initiative* serta pemerintah lokal China. Dalam CIFTIS 2024, sebanyak sekitar 800 peserta dari 80 negara, termasuk beberapa perusahaan besar seperti Google, Amazon Global Selling, Alibaba Group, JD.com, dan Shopee, turut berpartisipasi dalam pameran ini. Pameran ini juga menampilkan inovasi teknologi terbaru, seperti satelit internet, *big data*, dan pariwisata digital, yang bertujuan untuk memperluas perdagangan jasa. Dalam edisi kali ini, pengunjung dapat melihat robot bedah ortopedi dengan kecerdasan buatan (*AI*) yang dilengkapi *deep learning*, serta berbagai teknologi mutakhir lainnya dari berbagai sektor. Sejak dimulai pada tahun 2012, CIFTIS bertujuan untuk membuka jendela bagi China menuju dunia internasional, serta memperkuat kerjasama antarnegara dan menjadi panggung bagi inovasi industri serta pembangunan berkelanjutan. China dikenal sebagai pasar utama bagi pariwisata Indonesia, dengan total kunjungan 2 juta wisatawan mancanegara sebelum pandemi. Berdasarkan data, rata-rata durasi tinggal wisatawan China di Indonesia sekitar 8 hingga 11 hari, dengan pengeluaran rata-rata per kedatangan mencapai 1.386,55 dolar AS. Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) menargetkan kunjungan wisatawan dari China mencapai 1,5 juta orang pada tahun 2024. Data dari Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa pada Januari hingga Maret 2024, kedatangan wisatawan dari China tercatat mencapai 286.375 kunjungan, menjadikannya sebagai penyumbang turis luar negeri terbanyak keempat, dengan total kunjungan mencapai 787.024 orang pada 2023. ANTARA