SEMARANG –
**Borneonews - Boyolali**, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Boyolali, yang terletak di Jawa Tengah, telah menyalurkan bantuan air bersih kepada masyarakat sebanyak 153 tangki di delapan kecamatan selama musim kemarau hingga bulan September 2024. Kepala Pelaksana BPBD Boyolali, Suratno, menginformasikan bahwa terdapat 21 desa di delapan kecamatan yang mengalami kekurangan air bersih akibat kondisi musim kemarau yang tahun ini cukup ekstrem. Untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari warga, BPBD telah mengirimkan toplam 755.000 liter air bersih dalam bentuk bantuan tersebut. Masyarakat yang membutuhkan pasokan air bersih di desanya diimbau untuk menginformasikan kepada pemerintah desa atau kecamatan. Melalui jalur ini, BPBD akan segera melakukan *dropping* air bersih ke lokasi yang memerlukan. Adapun rincian pengiriman bantuan air bersih untuk 21 desa yang terdampak antara lain adalah Desa Guwo di Kecamatan Wonosegoro yang telah menerima 22 tangki, diikuti Desa Candigatak di Kecamatan Cepogo dengan 17 tangki, Desa Kalimati di Kecamatan Juwangi sebanyak 13 tangki, dan sejumlah desa lainnya yang juga mendapatkan bantuan sesuai dengan kebutuhan. Secara keseluruhan, sebanyak 52 dukuh dari 21 desa di delapan kecamatan telah menerima bantuan air bersih. Berdasarkan penetapan dari Bupati Boyolali, terdapat 11 kecamatan yang dinyatakan dalam status siaga darurat kekeringan, serta tujuh kecamatan yang siaga darurat dalam hal kebakaran hutan dan lahan. Untuk mengatasi dampak kekeringan, Pemkab Boyolali telah mengalokasikan anggaran sebesar Rp176.086.000 dari Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) tahun 2024. Suratno berharap agar dampak dari kekeringan tahun ini dapat dikelola dengan baik dan BPBD selalu siap untuk memberikan bantuan air bersih kepada masyarakat yang membutuhkannya. Selain itu, BPBD juga menyerukan kepada masyarakat untuk menjaga sumber air agar ketersediaannya tetap terjaga selama musim kemarau. Masyarakat diingatkan untuk waspada terhadap risiko kebakaran lahan, yang mayoritas dipicu oleh perilaku membakar sampah yang tidak diawasi atau ditinggal pergi. ANTARA