SEMARANG –
**Borneonews - Banyumas**, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Banyumas, Budi Nugroho, mengungkapkan bahwa saat ini terdapat 43 desa di Banyumas, Jawa Tengah, yang terpapar dampak kekeringan. Hingga hari ini, tercatat sebanyak 11.109 keluarga, yang berjumlah sekitar 35.111 jiwa, tinggal di kawasan tersebut yang mencakup sepuluh kecamatan. Budi menyebutkan bahwa meskipun pada awal September lalu terjadi hujan dengan intensitas yang cukup tinggi di sebagian besar kawasan Banyumas, situasi tersebut tidak menunjukkan perbaikan yang signifikan terhadap masalah kekeringan yang melanda daerah tersebut. Hujan yang terjadi di beberapa titik, meskipun sempat menyebabkan banjir di tiga desa dan tanah longsor di satu desa, tidak cukup untuk mengatasi dampak kekeringan yang telah mengakibatkan kesulitan bagi masyarakat. "Sehingga saat ini, kami masih melanjutkan penyaluran bantuan air bersih kepada warga yang terdampak kekeringan. Terlebih, beberapa hari terakhir cuaca di wilayah ini kembali kering," jelasnya. Sebagai respons terhadap situasi ini, BPBD sudah menyalurkan bantuan air bersih yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Banyumas dengan total sebanyak 234 tangki, yang setara dengan 1.165.000 liter, untuk memenuhi kebutuhan warga yang terdampak, maupun untuk rumah sakit umum daerah (RSUD) dan Kantor Kecamatan Lumbir. Adapun instansi lain yang turut berpartisipasi dalam penyaluran bantuan air bersih meliputi PMI Kabupaten Banyumas dengan memberikan 56 tangki (setara dengan 280.000 liter), Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citanduy yang menyediakan 11 tangki (55.000 liter), serta BBWS Serayu Opak yang mengirimkan 92 tangki (475.000 liter). Selain itu, organisasi kemasyarakatan dan dunia usaha juga menyuplai sebanyak 22 tangki (110.000 liter). "Dari total tersebut, jumlah bantuan air bersih yang telah disalurkan mencapai 402 tangki, dengan total volume mencapai 2.020.000 liter," terang Budi. Menyikapi kondisi cuaca yang tetap kering, Budi mengimbau masyarakat untuk lebih bijak dalam menggunakan air bersih, mengingat saat ini masih berada dalam musim kemarau. Dia juga mengingatkan agar warga tidak membuat api di hutan atau lahan kering, demi menghindari risiko terjadinya kebakaran hutan dan lahan. Budi mencatat bahwa sejak awal musim kemarau hingga sekarang, telah terjadi 18 kejadian kebakaran hutan dan lahan di Banyumas, yang mengakibatkan kerusakan lahan seluas 48,2 hektare dan satu orang dilaporkan menjadi korban jiwa. ANTARA