JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Badan Geologi yang berada di bawah naungan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menginformasikan bahwa tidak terdapat dampak negatif berupa keretakan tanah di wilayah Jawa Barat dan sekitarnya setelah wilayah tersebut diguncang oleh gempa bumi berkekuatan 5 magnitudo pada Rabu pagi. Kepala Badan Geologi, M. Wafid, menyampaikan dalam keterangan persnya bahwa kejadian ini tidak menimbulkan potensi terjadinya sesar permukaan ataupun bahaya lainnya yang dapat menyebabkan retakan tanah, penurunan tanah, pergerakan tanah, maupun *liquefaction*. Lebih lanjut, Wafid juga menegaskan bahwa insiden gempa bumi itu tidak memiliki risiko untuk memicu tsunami, karena titik episenternya terletak di daratan. Namun, meskipun situasi tampak terkendali, masyarakat yang tinggal di Jawa Barat dan sekitarnya diimbau untuk tetap waspada. Hal ini disebabkan oleh fakta bahwa sebagian besar area yang merasakan guncangan tersebut termasuk dalam Kawasan Rawan Bencana (KRB), yang berpotensi mengalami gempa bumi dengan tingkat magnitudo menengah hingga tinggi. Salah satu laporan yang datang dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Barat menyebutkan bahwa gempa ini telah menyebabkan kerusakan pada rumah-rumah penduduk di beberapa lokasi, antara lain di Desa Cikembang, Cibeureum, dan Tarunajaya dalam wilayah Kabupaten Bandung, serta di Kabupaten Garut. Wafid menjelaskan bahwa lokasi pusat gempa berada pada bentang alam yang umumnya bergelombang dengan adanya perbukitan yang terjal. Tim dari Badan Geologi telah melakukan klasifikasi terhadap daerah di sekitar pusat gempa, dan menemukan bahwa wilayah tersebut terdiri dari batuan berumur kuarter, termasuk batuan sedimen dan batuan vulkanik. Beberapa batuan kuarter tersebut diketahui telah mengalami proses pelapukan, yang menjadikannya lebih rentan terhadap guncangan karena bersifat mudah terurai dan tidak terkonsolidasi, sehingga memperparah dampak gempa bumi. Wafid juga mengingatkan bagi warga yang rumahnya mengalami kerusakan untuk segera mengungsi ke lokasi-lokasi yang aman, sesuai dengan arahan dari petugas BPBD setempat. Sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah melaporkan bahwa pusat gempa berada di darat pada kedalaman 10 kilometer dengan koordinat 7.19 LS, 107.67 BT, yang berjarak sekitar 24 kilometer dari arah Tenggara Kabupaten Bandung, dihasilkan oleh aktivitas Sesar Garcela. BMKG mencatat bahwa berdasarkan laporan dari masyarakat pada pukul 09.41 WIB, gempa bumi tersebut dirasakan di berbagai titik di Jawa Barat, dengan indikasi skala III MMI di Banjaran dan skala II-III MMI di wilayah Lembang, Parompong, Kabupaten Bandung Barat, Baleendah, Garut, dan Majalaya. Hingga pukul 10.10 WIB, BMKG melaporkan terdapat setidaknya lima kejadian gempa susulan yang terjadi setelah kejadian utama. ANTARA