BORNEONEWS, Palangka Raya - Komoditas bawang merah menjadi pemicu inflasi di Kalimantan Tengah,  Juli 2016,  Akumulasi dari dua wilayah yaitu di Kota Palangka Raya bawang merah menyumbang 0,09 persen dan di Sampit menyumbang sebesar 0,17 persen menjadikan Kalteng mengalami inflasi di angka 0,30 persen.

Terkait hal tersebut Dinas Pertanian dan Peternakan menjawab bahwa keterlambatan pelaksanaan lelanglah yang menyebabkan pergeseran musim tanam bawang merah ini.

"Progres pengembangan bawang merah kita ini 61 Hektar dengan dana APBN dan dengan APBD seluas 35 hektar. Totalnya 96 Hektar. Sebenarnya musim tanam sudah dimulai pada bulan April lalu namun berbagai kendala termasuk kendala lelang, baru terlaksana di Juli-Agustus ini," ungkap Kepala Bidang Agro Bisnis, Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Provinsi Kalteng, Dewi Erowati saat Pers Rilis Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Kalteng di ruang rapat asisten, Selasa (2/8/2016).

Saat ini petani budidaya bawang merah, menurut dia, sudah memasuki proses siap tanam dan ada pula yang dana dan bibitnya masih disuplai ke masing-masing Kelompok Tani (Poktan).

"Yang menggunakan dana APBN ini ialah Barito Utara yang minggu kedua Agustus ini memasuki waktu tanam sebanyak 1 hektar dan pada Oktober akan panen. Kemudian untuk Kapuas ada 30 hektare yang akan musim tanam pada minggu ketiga Agustus dan pada Oktober-November musim panennya. Lalu 30 hektar lagi di Kotim yang minggu kedua Agustus memasuki musim tanam dan akan panen Oktober," jelas Dewi.

Sementara untuk penggunaan dana APBD ada di Kabupaten Barito Timur, Barito Selatan, Seruyan, Palangka Raya, Murung Raya, Pulang Pisau dan Katingan dengan total 35 hektar yang akan mulai musim tanam pada minggu ketiga Agustus dan panen pada Oktober-November-Desember.

"Produksi bawang kita ini per hektar 7-8 hektar jadi kalau panen ini kita bisa memiliki sampai 672 ton per tahun sedangkan kebutuhan Kalteng sekitar 4.000 ton per tahun jadi kekurangannya kita masih suplai dari luar," tutupnya. (TESTI PRISCILLA/m)