JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Presiden Joko Widodo menekankan pentingnya penyederhanaan proses perizinan untuk pembangunan pembangkit listrik tenaga geotermal (PLTP) guna memaksimalkan potensi geotermal yang dimiliki Indonesia. Dalam sambutannya di acara Indonesia International Geothermal Convention and Exhibition 2024 yang diadakan di Jakarta, Jokowi mengungkapkan bahwa Indonesia belum mampu memanfaatkan sumber daya geotermal secara optimal, meskipun potensi yang ada mampu menghasilkan sekitar 24.000 megawatt listrik. Menurutnya, meski terdapat banyak peluang yang dihadapi, seperti minat besar dari para investor terhadap energi hijau, Indonesia masih mengalami kesulitan dalam proses pembangunan PLTP. "Saya merasa heran, karena walaupun banyak peluang terbuka, kita tidak dapat melaksanakan pembangunan PLTP secara cepat," ungkapnya. Jokowi juga mengutip pernyataan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia, yang menyebutkan bahwa kendala utama dalam pemanfaatan geotermal yang efisien terletak pada proses perizinan yang kompleks dan memakan waktu lama. "Menteri ESDM telah mengatakan bahwa waktu yang dibutuhkan untuk memenuhi persyaratan izin bisa mencapai lima hingga enam tahun. Ini adalah masalah yang perlu segera kita selesaikan agar investor dapat membantu meningkatkan tingkat optimalisasi potensi kita yang saat ini terjebak di angka 11 persen," tegasnya. Dengan langkah itu, Indonesia diharapkan dapat memproduksi lebih banyak listrik hijau. Jokowi juga menyoroti bahwa panjangnya proses perizinan dapat membuat investor enggan untuk menanamkan modal mereka dalam proyek PLTP. "Secara pribadi, saya tidak sabar untuk menunggu enam tahun, meskipun banyak yang mengatakan bahwa saya adalah orang yang sabar," candanya. Presiden kemudian menegaskan kembali pentingnya Indonesia dalam mengembangkan energi hijau dengan mengoptimalkan potensi geotermal yang sangat besar. "Diperkirakan, Indonesia menyimpan sekitar 40 persen potensi geotermal dunia. Ini menunjukkan bahwa kita memiliki banyak peluang untuk dimanfaatkan," tutupnya. ANTARA