**Borneonews - Solo**, Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sukoharjo telah meminta klarifikasi dari pihak pondok pesantren setelah terjadinya kekerasan yang mengakibatkan seorang santri meninggal dunia pada hari Senin, 16 September. Situasi ini menimbulkan kepedihan yang mendalam di kalangan masyarakat, terutama bagi lingkungan pendidikan pesantren.
Kepala Kantor Kementerian Agama Sukoharjo, Muh Mu'alim, menyatakan bahwa usaha untuk mengonfirmasi dengan pihak pondok pesantren telah dilakukan, namun sampai saat ini belum ada respons yang diterima. Ia mencurahkan perhatian terhadap kurangnya komunikasi antara pihak kementerian dengan pondok pasca insiden tersebut. Informasi mengenai peristiwa tragis itu pun diperoleh dari Kementerian Agama Provinsi Jawa Tengah yang sebelumnya mendapat laporan dari pihak kepolisian.
"Saat ini kami masih dalam kondisi syok, sehingga belum bisa mendapatkan klarifikasi dari mereka. Rencananya, kami akan mengunjungi rumah duka terlebih dahulu, dan setelah itu baru kami melanjutkan ke pondok," ujarnya.
Muh Mu'alim juga menambahkan bahwa pertemuan di dalam Forum Komunikasi Pondok Pesantren (FKPP) sudah dilaksanakan secara rutin setiap dua bulan. Pertemuan tersebut bertujuan untuk memberikan motivasi bagi pengelola pondok pesantren, dengan harapan supaya lingkungan sekolah menjadi sehat dan aman. Namun, meskipun sudah disampaikan arahan tersebut, kejadian kekerasan tetap terjadi.
Ketika ditanya lebih lanjut mengenai kemungkinan sanksi yang akan dikenakan kepada pondok pesantren terkait insiden tersebut, Muh Mu'alim mengungkapkan bahwa pihaknya masih perlu untuk berkomunikasi lebih lanjut dengan pimpinan terkait tindakan yang akan diambil. Ia menegaskan bahwa pondok pesantren yang memiliki izin operasional berarti sudah memenuhi ketentuan yang berlaku.
"Namun kami perlu mengkaji kasus ini lebih dalam. Untuk saat ini, kami belum bisa menyampaikan apa tindakan selanjutnya," tambahnya.
Sebelumnya, insiden penganiayaan yang berujung pada kematian terjadi di SMP Pesantren Tahfidz Az Zayadiyy, Sukoharjo. Terduga pelaku, yang memiliki inisial MG (15), merupakan kakak kelas dari korban yang bernama Abdul Karim Putra Wibowo (13). Saat ini, pelaku yang masih di bawah umur telah ditangani oleh Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) dengan pendampingan dari Balai Permasyarakatan.
ANTARA
Kemenag Sukoharjo Minta Klarifikasi Terkait Kematian Santri
Bagikan:

SEMARANG –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Mendagri Prancis: Ribuan Orang Ditahan saat Demonstrasi Lanjutan
Dua Tunggal Putri Indonesia Gagal ke Final Indonesia Masters
Menperin Yakin Produk UMKM Ramah Lingkungan RI Tembus Pasar Global
Yusril: Kebijakan Publik Harus Berorientasi Kepentingan Masyarakat
Raharjati Nursamsa Raih Perak World Climbing Series di Chile
ISPU Kapuas Melonjak dari 1.657 ke 2.406 dalam Sejam, Udara Berstatus Berbahaya
Komentar (0)
Memuat komentar…







