JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir baru-baru ini meresmikan Mandiri Digital Tower, yang merupakan gedung baru yang dikhususkan untuk sektor teknologi informasi (IT) PT Bank Mandiri Tbk. Peresmian gedung yang memiliki 32 lantai ini menandakan komitmen perusahaan dalam mendukung operasional bisnis melalui transformasi digital yang semakin penting di era modern. Dalam acara tersebut, Erick Thohir menjelaskan bahwa digitalisasi telah menjadi faktor kunci dalam menghadapi persaingan bisnis yang semakin ketat. Ia menekankan pentingnya *cyber security* yang maksimal sebelum perusahaan melanjutkan pengembangan teknologi lebih lanjut. “Digitalisasi sekarang menjadi kunci kita untuk menjadi sebuah persaingan, dan tentu *cyber security* menjadi sebuah hal yang harus dimaksimalkan sebelum dikembangkan,” paparnya saat konferensi pers peresmian Mandiri Digital Tower yang bertempat di Grogol Petamburan, Jakarta. Erick juga mengungkapkan bahwa pembangunan gedung khusus untuk divisi IT sangat penting di tengah kemajuan zaman yang serba digital. Dia menyoroti bahwa perkembangan teknologi membawa manfaat, namun juga berpotensi menimbulkan ancaman, seperti contohnya ledakan *pager* yang baru-baru ini terjadi di Lebanon. “Kita bisa lihat pemberitaan beberapa hari terakhir, *pager* pun bisa dipakai untuk alat membunuh. Itu (pager) meledak bersama, dan tadi Bank Mandiri juga presentasi ke saya, di kurun waktu 25 jam ada 2 miliar serangan (siber),” ujarnya. Di sisi lain, Direktur Utama Bank Mandiri, Darmawan Junaidi, menguraikan bahwa Mandiri Digital Tower memiliki luas 1,5 hektar dan akan menampung sekitar 4.400 staf IT. Gedung ini dilengkapi dengan berbagai fasilitas, termasuk *command center*, ruang perkantoran, hingga stasiun pengisian kendaraan listrik (EV charging station). Mandiri Digital Tower juga memperoleh klasifikasi platinum sebagai green building, menjadikannya bangunan Bank Mandiri yang pertama dengan kategori tersebut. Darmawan menyebutkan bahwa pembangunan gedung ini memerlukan investasi yang mencapai Rp1,1 triliun. “Ini merupakan bentuk totalitas kami dalam mengoptimalkan teknologi informasi sebagai tulang punggung pengembangan bisnis di masa depan, dan menjadi *game changer* dalam persaingan era digital ini,” jelasnya. Namun, ia memberikan penjelasan tambahan bahwa Mandiri Digital Tower tidak dirancang sebagai pusat penyimpanan data (*data center*). “Tapi semua perlengkapan tentunya enggak bisa semua ada di sini. Karena ada seperti misalnya *data center*, kemudian juga yang terkait dengan bisnis *recovery center*, itu ada beberapa tempat yang tidak bisa kita expose. Tapi memang untuk transformasi digital itu sebagian besar kapasitinya ada di sini,” tandas Darmawan. ANTARA