BANDA ACEH –
**Borneonews - Banda Aceh,** Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menginformasikan bahwa saat ini wilayah Aceh sedang mengalami transisi dari musim kemarau menuju musim hujan. Dalam situasi ini, masyarakat diimbau untuk tetap waspada terhadap berbagai potensi bencana yang dapat terjadi akibat kondisi hidrometeorologi yang tidak menentu. Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Iskandar Muda Banda Aceh, Nasrol Adil, menjelaskan bahwa potensi angin kencang di Aceh, khususnya di daerah Banda Aceh, Aceh Besar, dan pesisir barat selatan, cukup tinggi. Selain itu, wilayah tengah Aceh juga berisiko mengalami hal yang sama. Angin kencang dapat terjadi secara sporadis di wilayah utara dan timur Aceh pada waktu-waktu tertentu. BMKG saat ini juga mencatat adanya gelombang *Rossby* di bagian utara Sumatera, belokan angin (*shearline*), dan area konvergensi di Provinsi Aceh. Fenomena-fenomena ini, ditambah dengan anomali suhu permukaan laut yang hangat di perairan utara dan barat Aceh, dapat mendukung peningkatan penguapan, yang pada gilirannya menambah massa uap air di atmosfer. Kondisi-kondisi tersebut berpotensi meningkatkan pertumbuhan awan hujan di Aceh. Menurut Nasrol, kemungkinan angin kencang akan terjadi terutama pada siang hari hingga menjelang malam, dengan kecepatan mencapai 20 hingga 30 knot. Masa transisi ini umumnya berlangsung di Aceh pada bulan September. Diperkirakan, kondisi cuaca ekstrem di tanah Rencong ini akan berlangsung beberapa hari ke depan dan mungkin akan terus berlanjut hingga akhir September di beberapa daerah. Pada periode Oktober-November, kondisi angin kencang diperkirakan akan mulai mereda, namun jumlah curah hujan cenderung meningkat. Dalam menghadapi kemungkinan ini, masyarakat disarankan untuk selalu waspada terhadap berbagai objek seperti pohon, tiang, dan baliho yang berpotensi tumbang akibat tingginya curah hujan serta kecepatan angin yang signifikan. Nasrol juga menekankan pentingnya memperhatikan kekuatan tenda yang digunakan untuk perhelatan Pekan Olahraga Nasional (PON), termasuk kekuatan tiang dan pasak agar tetap stabil. Selain itu, perlu perhatian khusus terhadap bangunan-bangunan yang sudah lapuk serta infrastruktur jaringan listrik di sekitar. ANTARA