JAKARTA –
**Borneonews - Ankara**, Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (*World Health Organization* atau WHO), Tedros Adhanom Ghebreyesus, telah mengeluarkan pernyataan tegas yang mengutuk serangan terhadap konvoi yang dipimpin oleh WHO di Jalur Gaza. Insiden ini terjadi pada tanggal 17 September, ketika konvoi tersebut menjadi target tembakan dari tank milik Israel. Tedros menyatakan bahwa tindakan tersebut jelas merupakan sebuah pelanggaran dan "tidak dapat diterima". Dalam penjelasannya di platform *X*, Tedros menceritakan bahwa pada hari Sabtu sebelumnya, konvoi WHO yang sedang kembali dari Gaza utara telah mendapatkan izin dan berhasil melewati pos pemeriksaan. Namun, di tengah perjalanan, konvoi itu berhadapan langsung dengan dua tank Israel yang meluncurkan tembakan ke dekat mereka. Beruntung, tidak ada anggota konvoi yang mengalami luka akibat insiden tersebut. Tedros juga mengapresiasi usaha sebelumnya dari tim kesehatan yang berhasil menjangkau Rumah Sakit Al-Shifa untuk mengirimkan pasokan penting bagi ruang gawat darurat. Selain itu, pasokan juga telah dikirim untuk membantu fasilitas Bulan Sabit Merah Palestina di kawasan utara, termasuk untuk perawatan berbagai penyakit yang tidak menular. Lebih lanjut, Tedros menambahkan bahwa tim tersebut juga memainkan peran penting dalam memfasilitasi rotasi anggota tim medis darurat. Ia menekankan betapa pentingnya pekerjaan yang dilakukan oleh para pekerja kemanusiaan di tengah kondisi yang sangat berbahaya dan mengancam jiwa tersebut. "Di tengah bahaya ekstrem dan kondisi yang mengancam nyawa, para pekerja kemanusiaan di Gaza terus berupaya memberikan bantuan yang sangat dibutuhkan. Mereka adalah harapan terakhir bagi dua juta orang yang terjebak dalam situasi ini," ujarnya. Ia menegaskan bahwa keselamatan bagi para pekerja kemanusiaan merupakan hal minimal yang harus mereka peroleh dan menekankan bahwa mekanisme untuk menghindari konflik harus selalu dihormati. Di samping itu, Tedros menyerukan perlunya gencatan senjata secepatnya. Sejak insiden serangan lintas batas oleh grup Hamas pada 7 Oktober tahun lalu, Israel telah melancarkan tindakan agresif secara terus-menerus terhadap Jalur Gaza. Meskipun Dewan Keamanan PBB telah menyerukan penghentian kekerasan segera, situasi di lapangan tetap memprihatinkan. Menurut laporan dari otoritas kesehatan setempat, lebih dari 41.000 orang—mayoritas merupakan wanita dan anak-anak—telah kehilangan nyawa, sementara lebih dari 95.400 lainnya mengalami cedera. Serangan yang berkelanjutan ini telah menyebabkan hampir seluruh penduduk Gaza mengungsi, di tengah blokade yang berlangsung yang mengakibatkan krisis parah dalam pasokan pangan, air bersih, dan obat-obatan. Israel juga menghadapi tuduhan pelanggaran hak asasi manusia berat hingga genosida di Pengadilan Internasional terkait dengan tindakan mereka di Gaza. ANTARA