JAKARTA –
**Borneonews - Medan**, Nama Adam Malik Batubara adalah sosok yang tak asing bagi masyarakat Pematang Siantar. Jejak peran dan warisannya telah terukir dalam sejarah bangsa Indonesia dan menginspirasi banyak generasi, melewati batas waktu dan lingkungan sosial. Pematang Siantar, yang pada bulan September ini menjadi tempat penyelenggaraan pertandingan tinju PON Aceh-Sumatera Utara 2024, mengabadikan nama Adam Malik dengan sebuah lapangan yang menjadi ikon daerah tersebut, yakni Lapangan Adam Malik. Baru-baru ini, di lokasi tersebut, wawancara dilakukan terhadap beberapa warga yang memberikan pandangan mereka tentang sosok luar biasa ini. Hasil wawancara tersebut menunjukkan betapa familiar dan banyaknya pengetahuan yang mereka miliki tentang Adam Malik beserta berbagai kontribusinya. Tidak hanya warga Siantar, jejak keberadaan Adam Malik juga dikenang secara luas di seluruh Nusantara, di setiap zaman, dan dalam berbagai peran yang telah ia jalani. Sebagai seorang negarawan, diplomat, wartawan, birokrat, dan politisi, Adam Malik tidak pernah ragu untuk menjalani peran-peran tersebut dengan keahliannya. Gagasan dan praktik kehidupan yang ia usung tidak hanya menjadi cerminan zamannya, tetapi juga terus relevan hingga saat ini. Lahir pada 22 Juli 1917, Adam Malik telah menunjukkan gebrakan besar sejak masa remajanya. Ia ditangkap oleh pihak kolonial Belanda pada usia 17 tahun karena keterlibatannya dalam organisasi yang dilarang oleh penguasa kolonial. Masa mudanya menjadi bagian dari kebangkitan suku-suku di Nusantara dalam melawan penjajahan, dengan berbagai peristiwa penting yang melekat padanya pada tanggal-tanggal bersejarah. Di antara peristiwa penting tersebut adalah 13 Desember 1936, ketika ia bersama beberapa tokoh lain mendirikan Kantor Berita Antara. Langkah berani ini merupakan sebuah terobosan dalam dunia pers yang dirintis di tengah dominasi kolonial Belanda. Dengan keberanian, mereka menghadapi tantangan yang ada dan mendobrak batasan yang dibangun oleh penguasa. Sebagai seorang pembelajar sejati, Adam Malik berusaha menerapkan pola *news agency* seperti yang diterapkan oleh kantor berita *Reuters*, memberikan layanan informasi kepada berbagai media. Ide brilian ini tidak populer pada masanya dan sempat menjadi bahan olok-olokan di kalangan wartawan, tetapi ternyata justru melampaui batasan zaman yang ada, menyusul gerakan anti-kolonialisme yang tersebar di Asia. Kantor Berita Antara tidak hanya menjadi lembaga pers yang tertua di Indonesia, tetapi juga salah satu yang paling tua di tingkat Asia. Hanya ada beberapa lembaga lainnya di negara-negara seperti Turki, Taiwan, China, dan Iran yang lebih tua dari Antara. Selain sebagai tokoh pers, Adam Malik juga dikenal sebagai politikus ulung yang mengecap pahit getir bersama partainya. Namun demikian, ia paling dikenal karena kemampuannya sebagai diplomat. Salah satu momen puncaknya adalah saat memimpin perundingan terkait Irian Barat dengan Belanda di New York, yang kemudian berujung pada Perjanjian New York pada 15 Agustus 1962. Perjanjian ini menandai berakhirnya kekuasaan Belanda di wilayah yang kemudian menjadi bagian dari Indonesia pada 1 Mei 1963 setelah dikelola oleh United Nations Temporary Executive Authority (UNTEA). Selanjutnya, kedudukan Adam Malik yang saat itu menjabat sebagai Menteri Luar Negeri juga berkontribusi besar dalam mendirikan Asosiasi Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) pada 8 Agustus 1967, bersama dengan para tokoh dari negara-negara lain di kawasan tersebut. Lima pendiri ASEAN ini, termasuk Adam Malik, memiliki latar belakang dalam dunia pers, yang tentunya memberikan keuntungan dalam komunikasi antarnegara. Peran besar Adam Malik berlanjut saat ia menjabat sebagai Presiden Sidang Umum PBB pada tahun 1971-1972. Ia berhasil memastikan keberlanjutan hubungan diplomatik dengan Republik Rakyat China, sehingga negara tersebut diterima sebagai anggota PBB pada Oktober 1971, menggantikan posisi Republik China (Taiwan). Warisan terbesar dari Adam Malik adalah nilai-nilai toleransi dan inklusif yang berkaitan erat dengan latar belakang multikultural daerah asalnya. Ia secara konsisten mendorong posisi Indonesia untuk tidak berpihak, melainkan mengutamakan kepentingan rakyat dan berperan aktif dalam menjaga perdamaian dunia. Sebagai salah satu pemuda revolusioner yang mendambakan kemerdekaan Indonesia, Adam Malik turut serta dalam peristiwa Rengasdengklok yang mendesak diproklamasikannya kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Ia juga memiliki peran penting dalam normalisasi hubungan antara Indonesia dan Belanda pada tahun 1968, setelah sebelumnya sempat terputus. Seiring berjalannya waktu, Adam Malik menarik diri dari kedekatannya dengan Presiden Soekarno ketika merasa bahwa Indonesia sudah berpihak kepada Republik Rakyat China. Meskipun demikian, saat Orde Baru berkuasa, ia kembali aktif dalam mendorong hubungan diplomatik dengan China. Berkat dedikasinya, Adam Malik berhasil meyakinkan kreditor asing untuk memberikan keringanan waktu pembayaran utang yang ditinggalkan oleh Orde Lama. Berbagai prestasi dan nilai-nilai mulia yang ia wariskan menjadikan Adam Malik layak dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada tahun 1998. Pengakuan terhadap sosok Adam Malik tidak hanya tertuang dalam beragam penghargaan, tetapi seharusnya diteruskan dengan menjaga dan melestarikan nilai-nilai kekayaan budaya Nusantara, seperti nasionalisme, patriotisme, serta penguatan hubungan antarbudaya yang harmonis dan inklusif. Dengan demikian, kita dapat terus menghargai dan mengenang jasa-jasanya dalam memperjuangkan masyarakat yang berkeadilan di Indonesia. ANTARA