SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit - Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai menyelimuti wilayah Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Fenomena kabut asap pagi ini terlihat di beberapa rusa jalan, seperti di sekitar Jalan Tjilik Riwut, Kamis, 19 September 2024.

"Kabut asap terjadi pagi ini mengakibatkan jarak pandang terbatas dan udara terasa sangat pengap," kata Ida Lestari salah satu warga Sampit.

Kabut asap yang disebabkan oleh karhutla ini mulai terasa sejak dua hari terakhir. Aroma sisa kebakaran lahan yang menyengat membuat warga semakin waspada.

"Pada pagi hari, kabut asap terasa lebih tebal dan mengganggu pernapasan. Kami sangat khawatir dengan dampaknya bagi kesehatan," lanjut Ida.

Namun, kabut asap yang muncul pagi hari biasanya tidak berlangsung lama. Kabut ini berangsur menipis dan hilang seiring dengan munculnya terik sinar matahari dan kuatnya tiupan angin. Meski demikian, kondisi udara tetap membuat warga waspada dan mengantisipasi dampaknya.

Banyak warga yang beraktivitas di luar rumah terlihat menggunakan masker ketika kabut asap muncul. Hal ini dilakukan untuk mencegah bahaya kabut asap bagi kesehatan, terutama risiko penyakit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

Warga berharap pemerintah daerah dan pihak terkait dapat melakukan upaya lebih maksimal dalam menanggulangi kebakaran hutan dan lahan, sehingga kabut asap tidak semakin parah. Jika kondisi ini terus berlanjut, dampaknya akan sangat luas, tidak hanya bagi kesehatan tetapi juga bagi aktivitas ekonomi dan pendidikan.

Selain itu, warga juga diimbau untuk tidak melakukan pembakaran hutan atau lahan untuk keperluan apapun. Upaya pencegahan dari seluruh pihak sangat diperlukan agar masalah kabut asap ini dapat segera teratasi dan tidak mengganggu kehidupan masyarakat lebih lanjut. (DEWI PATMALASARI/H)