JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta melaksanakan simulasi gempa bumi di SMPN 50 yang terletak di Kramat Jati, Jakarta Timur. Kegiatan ini diadakan pada hari Kamis sebagai bagian dari pelatihan Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) yang ditujukan bagi tingkat sekolah. Ketua Sub Kelompok Urusan Kesiapsiagaan BPBD DKI Jakarta, Embai Suhaini, menjelaskan bahwa acara ini merupakan hasil kolaborasi antara BPBD DKI dengan USAID-KUAT, yang merupakan singkatan dari Komunitas Perkotaan Untuk Aksi Tangguh, serta Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) di DKI Jakarta. Tujuan utama dari simulasi ini adalah untuk merespons isu terkait potensi gempa *megathrust* yang semakin meningkat. Kegiatan ini bertujuan agar siswa lebih peka dan siap menghadapi bencana, terutama dalam situasi gempa bumi. “Melalui simulasi ini, siswa diharapkan memahami langkah-langkah yang harus diambil saat bencana terjadi,” tambahnya. Peningkatan kemampuan dan kapasitas siswa sangat penting agar mereka mengetahui tindakan yang tepat ketika bencana datang. Embai menjelaskan bahwa rangkaian kegiatan dimulai dengan pelatihan dan sosialisasi yang membahas berbagai jenis bencana alam, terutama gempa bumi, baik untuk siswa maupun guru. Dalam pelatihan ini, mereka dikenalkan pada berbagai macam bencana dan cara yang efektif untuk menghadapi serta melakukan evakuasi saat terjadinya bencana. Setelah sesi pelatihan, siswa dan guru melaksanakan praktik aktivitas terkait kebencanaan. Embai menegaskan pentingnya adanya petugas kebencanaan di sekolah, yang bertugas membunyikan sirene, membantu proses evakuasi, dan memberi informasi mengenai titik evakuasi kepada semua peserta simulasi. Dengan demikian, diharapkan kegiatan ini dapat mengurangi dampak dan risiko yang dihadapi saat terjadi bencana. Dia juga menambahkan bahwa kegiatan serupa akan terus dilaksanakan di sekolah-sekolah lain. Pada tahun ini, BPBD DKI Jakarta menargetkan 96 sekolah di Kecamatan Gambir dan Kramat Jati untuk ikut berpartisipasi dalam program yang sama. Project Director USAID KUAT, Bill Marsden, menekankan pentingnya kolaborasi dan komitmen dari berbagai pihak dalam meningkatkan kesiapsiagaan sekolah menghadapi gempa bumi. “Kerjasama ini harus dilakukan secara rutin, setidaknya sekali dalam setahun, untuk melakukan simulasi demi meminimalisir risiko terkait bencana gempa bumi,” tuturnya. Di sisi lain, Kepala Sekolah SMPN 50 Jakarta, Syamsul Hadri, menyatakan bahwa kegiatan simulasi diikuti oleh 300 siswa. Dia menyambut baik inisiatif ini, karena dapat meningkatkan kesadaran dan kepekaan siswa terhadap bencana. "Kami sudah memiliki program pembiasaan di sekolah ini, dan simulasi ini akan menjadi bagian dari kegiatan tersebut. Kami berencana untuk melaksanakan latihan ini secara berkala, bisa seminggu sekali atau sebulan sekali di masing-masing kelas," ujarnya. SPAB adalah program yang diinisiasi oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi untuk meningkatkan kapasitas sumber daya di institusi pendidikan dalam hal mitigasi dan pengurangan risiko bencana. ANTARA