BENGKULU –
**Borneonews - Bengkulu**, Bank Indonesia (BI) mengungkapkan bahwa Provinsi Bengkulu telah beralih dari pendekatan konvensional dalam mengendalikan inflasi di daerah tersebut. Hal ini ditegaskan oleh Kepala Kantor Perwakilan BI di Bengkulu, Wahyu Yuwana, dalam sebuah pernyataan resmi. Wahyu menjelaskan bahwa saat ini, upaya pengendalian inflasi tidak hanya dilakukan dengan cara-cara tradisional tetapi juga telah mengadopsi berbagai inovasi yang relevan. Menurutnya, banyak langkah kreatif dan kolaboratif sudah diambil oleh Pemerintah Provinsi Bengkulu, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) serta berbagai instansi terkait. Inovasi ini tidak hanya bersumber dari ide-ide baru, tetapi juga hasil adaptasi dari praktik baik yang telah diterapkan di daerah lain. Salah satu inisiatif yang telah diluncurkan adalah Toko Pangan Ado Galo, yang merupakan toko serba ada khusus penyediaan pangan dengan harga terjangkau. Toko ini telah dirintis di beberapa pasar tradisional di Bengkulu, menyediakan berbagai kebutuhan pokok seperti beras melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) yang dikelola oleh Bulog. Selain itu, Toko Pangan Ado Galo juga menawarkan komoditas pertanian lokal dengan harga yang lebih bersaing. Melalui inisiatif ini, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di daerah tersebut mendapatkan dukungan dalam memasarkan produk mereka. Dengan cara ini, UMKM juga didorong untuk tumbuh dan berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi lokal. Pemerintah Provinsi Bengkulu, berkolaborasi dengan TPID, juga menginisiasi pasar murah secara terintegrasi. Menurut Gubernur Bengkulu, Rohidin Mersyah, kegiatan ini sangat efektif dalam menjaga stabilitas ekonomi dan inflasi di provinsi tersebut. Penyaluran bantuan sosial diintegrasikan dengan pengadaan pasar murah di lokasi pencairan bantuan, sehingga penerima bantuan bisa langsung menggunakan dana tersebut untuk membeli kebutuhan pokok dengan harga yang lebih terjangkau. Gubernur Rohidin menambahkan bahwa dengan adanya pasar murah, risiko penyalahgunaan bantuan sosial untuk kebutuhan yang tidak mendesak, seperti membeli rokok, bisa diminimalkan. Hal ini memastikan bahwa bantuan yang diberikan benar-benar digunakan untuk kebutuhan sehari-hari para penerima. Lebih lanjut, TPID juga aktif memberikan pelatihan kepada petani mengenai modernisasi dalam bidang pertanian. Tujuannya adalah untuk meningkatkan hasil produksi sehingga pasokan komoditas di pasaran tetap terjaga. Dengan cara ini, harga bahan pokok dapat stabil dan membantu menghindari lonjakan inflasi yang merugikan masyarakat. Kerja sama antar daerah juga menjadi fokus, di mana Bengkulu menjalin kemitraan dengan beberapa provinsi lain untuk memastikan ketersediaan pasokan pangan dan komoditas penting lainnya. Dengan upaya yang beragam ini, Provinsi Bengkulu kini mampu mengendalikan inflasi dengan lebih efisien, tidak lagi bergantung pada respons sesaat saat terjadi lonjakan harga di pasar. ANTARA