JAKARTA –
**Borneonews - Surakarta**, Ketua Umum Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI), yang juga menjabat sebagai Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, mengungkapkan bahwa perekonomian Indonesia dalam dekade terakhir tergolong sebagai salah satu yang paling baik di dunia. “Selama sepuluh tahun terakhir, rata-rata pertumbuhan ekonomi kita berada di atas 5 persen, yang merupakan salah satu kinerja terbaik secara global,” ungkap Perry saat memberikan sambutan dalam Kongres ISEI XXII 2024 yang berlangsung di Surakarta, Jawa Tengah, pada hari Kamis. Meskipun terdapat dampak negatif yang dialami pada tahun 2020 dan 2021 akibat pandemi COVID-19, Indonesia tetap mampu menjaga laju pertumbuhan ekonomi di kisaran 5,0 hingga 5,3 persen pada tahun-tahun berikutnya. Perry menambahkan, “Walaupun mengalami kontraksi, kita tetap mencatatkan pertumbuhan terendah di dunia dan cepat pulih. Tahun ini, *insya Allah*, kita dapat mencapai pertumbuhan 5,1 persen dan 5,2 persen pada tahun depan.” Di samping itu, inflasi di Indonesia juga berada dalam kendali yang baik. Perry menjelaskan bahwa sebelum tahun 2013, laju inflasi sempat menyentuh angka 10 persen. Namun, dalam sepuluh tahun terakhir, laju inflasi berhasil ditekan hingga berada di level antara 2 hingga 5 persen. “Menjaga inflasi agar tetap rendah sangatlah penting, karena hal ini berpengaruh langsung terhadap kesejahteraan masyarakat,” tegasnya. Perry juga menyoroti kondisi defisit transaksi berjalan yang menunjukkan tren positif. Walaupun sering mengalami defisit, sektor ini berhasil membukukan surplus pada tahun 2021 dan 2022, yang dipengaruhi oleh proses hilirisasi serta peningkatan kinerja ekspor yang signifikan. Selain itu, defisit fiskal juga menunjukkan kinerja yang memuaskan. Defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) pernah melewati angka 6,1 persen pada tahun 2020 akibat dampak pandemi. Namun, pada tahun 2022, angka tersebut berhasil diturunkan di bawah 3 persen, mencerminkan adanya konsolidasi fiskal yang efektif. “Indonesia patut dicontoh sebagai negara yang berhasil menggabungkan koordinasi kebijakan moneter, fiskal, dan stabilitas makroekonomi sebagai fondasi untuk mencapai pertumbuhan yang berkelanjutan,” ujar Perry. Di bidang ketenagakerjaan, tingkat pengangguran juga mengalami penurunan dari 5,8 persen menjadi 5,3 persen. Melihat sisi kemiskinan, angka yang sempat menyentuh 11 persen kini berhasil ditekan menjadi 9,4 persen. “Hal ini menunjukkan bahwa tidak hanya fokus pada stabilitas makro, tapi juga perlindungan dan keadilan sosial telah dilaksanakan dengan baik,” pungkasnya. ANTARA