MATARAM –
**Borneonews - Mataram**, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Nusa Tenggara Barat telah mengambil langkah-langkah strategis untuk menghadapi dampak kekeringan yang kini melanda sebagian besar wilayahnya. Kekeringan ini menjadi masalah serius di tengah musim kemarau. Kepala BPBD NTB, Ahmadi, menjelaskan bahwa salah satu antisipasi yang diusulkan adalah efisiensi penggunaan air dalam sektor pertanian, terutama dengan memanfaatkan tanaman palawija. Tanaman ini dipandang sebagai solusi alternatif untuk mengisi lahan pertanian, terutama di saat terbatasnya pasokan air akibat kekeringan. Tanaman palawija, yang terdiri dari kacang-kacangan dan umbi-umbian, dikenal tidak memerlukan banyak air. Selain itu, tanaman tersebut juga memiliki siklus tanam yang lebih cepat, sehingga dapat menjadi pilihan yang tepat selama musim kemarau. Berdasarkan data dari Dinas Pertanian dan Perkebunan NTB, saat ini diperkirakan sekitar 10 ribu hektare lahan pertanian di Nusa Tenggara Barat mengalami dampak kekeringan. Lahan yang terdampak tersebut tersebar di beberapa kabupaten, termasuk Bima, Dompu, Sumbawa, Lombok Timur, dan Lombok Tengah. Ahmadi menambahkan bahwa upaya penanganan kekeringan juga mencakup distribusi air bersih kepada masyarakat yang tidak memiliki akses ke sumber air perpipaan atau air tanah. Tak hanya itu, bantuan air bersih juga disalurkan ke pulau-pulau kecil. Sebuah laporan dari Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) mencatat terdapat sekitar 401 pulau kecil yang berfungsi mendukung dua pulau utama di Nusa Tenggara Barat, yaitu Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa. Lebih lanjut, BPBD NTB telah menyiapkan anggaran untuk belanja tak terduga (BTT) dalam rangka distribusi air bersih tersebut, melibatkan pemerintah kabupaten, pemerintah provinsi, serta pihak swasta untuk meningkatkan efektivitas bantuan ini. Hingga saat ini, sembilan dari sepuluh kabupaten/kota di Nusa Tenggara Barat sudah menetapkan status tanggap darurat bencana kekeringan. Situasi ini sejalan dengan prediksi dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) yang memperkirakan bahwa potensi kekeringan di kawasan ini akan meluas, dengan puncak musim kemarau diperkirakan masih berlangsung hingga September 2024. Pada periode dasarian kedua bulan September 2024, potensi hujan di Nusa Tenggara Barat diprediksi sangat rendah. Hanya sebagian kecil wilayah yang berpotensi menerima hujan dengan intensitas ringan hingga sedang. ANTARA