**Borneonews - Ankara**, Komisaris Jenderal Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA), Philippe Lazzarini, menyampaikan keprihatinannya terkait serangan terus-menerus yang ditujukan pada organisasi yang ia pimpin. Dalam pernyataannya, Lazzarini mengindikasikan bahwa UNRWA tidak hanya menghadapi serangan fisik, tetapi juga menjadi sasaran *disinformation* atau informasi yang menyesatkan.
Menurut Lazzarini, di Gaza, sejumlah besar pekerja kemanusiaan dari UNRWA kehilangan nyawa mereka akibat serangan yang menyasar bangunan-bangunan milik badan tersebut. Melalui akun media sosialnya, Lazzarini menekankan bahwa UNRWA berulang kali menjadi target informasi yang salah. Ia menegaskan bahwa ada usaha sistematis untuk mendiskreditkan pegawai mereka dengan mengklaim bahwa mereka terkait dengan kelompok bersenjata seperti Hamas.
Pernyataan Lazzarini menyebut sejumlah klaim tersebut sebagai "mengerikan". Ia menyerukan bahwa tuduhan semacam itu tidak didasari oleh bukti nyata dan berpotensi mengganggu keadaan di lapangan. Salah satu dampak buruk yang ia temukan adalah meningkatnya rasa takut di kalangan pekerja kemanusiaan yang berada di garis depan misi mereka di Gaza.
Ia menyampaikan keprihatinan bahwa beberapa pekerja kemanusiaan bahkan mengaku tidak merasa aman ketika mengenakan rompi identitas UNRWA. Situasi ini semakin memperburuk kondisi, di mana anak-anak dari pekerja tersebut memohon agar orang tua mereka tetap di rumah untuk menghindari potensi bahaya.
Lazzarini menjelaskan bahwa serangan informasi ini bukan hanya serangan terhadap netralitas UNRWA, tetapi memiliki tujuan lebih luas. Tujuannya termasuk mengalihkan perhatian publik dari kekejaman perang yang sedang terjadi, mendehumanisasi korban, serta merusak reputasi UNRWA sebagai penyedia layanan dasar, seperti makanan, tempat tinggal, dan perawatan kesehatan di Gaza.
Dia juga mengingatkan semua pihak akan tanggung jawab mereka untuk menahan penyebaran informasi yang tidak akurat atau bersifat berbahaya. Lazzarini mengajak orang-orang untuk memeriksa fakta sebelum membagikan informasi yang berpotensi menimbulkan risiko bagi keselamatan orang lain.
Sejak dimulainya serangan udara Israel pada 7 Oktober 2023, lebih dari 41.000 warga Palestina, termasuk 16.795 anak-anak dan 11.378 wanita, dilaporkan tewas. Sedangkan, 95.551 orang mengalami luka-luka, dan ribuan lainnya masih terjebak di bawah reruntuhan bangunan. Penargetan berkelanjutan terhadap infrastruktur penting seperti rumah sakit dan sekolah juga telah menyebabkan kerusakan serius pada layanan vital yang diperlukan oleh masyarakat di Gaza.
ANTARA
UNRWA Hadapi Serangan Informasi dan Kehilangan Nyawa di Gaza
Bagikan:

JAKARTA –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Indeks Kualitas Udara Palangka Raya Capai 1.506, Masuk Kategori Berbahaya
Penyelundupan 65 Cartridge Diduga Etomidate di Rutan Salemba Digagalkan
NU Kalteng Ingatkan Penyampaian Aspirasi Harus Santun dan Jaga Persatuan
LDII Kalteng Tekankan Gotong Royong untuk Penanganan Karhutla
Agustiar Sabran Ajak Tokoh Lintas Agama Perkuat Persatuan Hadapi Karhutla
Bupati Kobar Bermalam di TNTP, Tinjau Pemadaman Karhutla dan Kebutuhan Relawan
Komentar (0)
Memuat komentar…







