JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menyampaikan komitmennya dalam mempercepat hilirisasi penelitian terkait bahan alam. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan kemandirian di sektor farmasi, sehingga produk obat berbahan alam dapat terealisasi dan dikomersialisasikan demi kepentingan pelayanan kesehatan serta kesejahteraan masyarakat. Kepala BPOM, Taruna Ikrar, menjelaskan bahwa langkah-langkah yang diambil termasuk menyediakan fasilitas dan pendampingan yang dibutuhkan pada tahap awal penelitian bahan alam. Selain itu, mereka juga fokus pada pengembangan dan persiapan untuk produksi. Dukungan terkait regulasi serta peningkatan kapasitas bagi peneliti dan industri juga menjadi bagian penting dari strategi ini. Menurut data yang dimiliki BPOM, hingga bulan September 2024, terdapat lebih dari 15.000 produk obat bahan alam yang sudah terdaftar, termasuk 77 obat herbal terstandardisasi dan 20 fitofarmaka. Hal ini menunjukkan potensi besar kekayaan bahan alam Indonesia dalam mendukung kesehatan masyarakat. Taruna menambahkan, meskipun obat tradisional tidak bisa sepenuhnya menggantikan kebutuhan akan impor bahan baku obat, produk tersebut dapat memenuhi kebutuhan berlebihan masyarakat. Ia mencontohkan, beberapa rumah sakit telah mulai menerapkan sistem pengobatan yang menggabungkan pendekatan modern dengan *traditional medicine*, sehingga dapat saling melengkapi. Pemerintah memberikan dukungan penuh terkait pengembangan obat serta produk farmasi lainnya, termasuk yang berbasis bahan alam. Sebagai bagian dari strategi ini, pemerintah telah menerbitkan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 6 Tahun 2016 yang berfokus pada Percepatan Pengembangan Industri Farmasi dan Alat Kesehatan. Dalam konteks hilirisasi fitofarmaka, Satuan Tugas Percepatan Pengembangan dan Pemanfaatan Fitofarmaka telah mengidentifikasi 10 penyakit prioritas yang menjadi fokus pengembangan. Di antara penyakit tersebut adalah stunting dan masalah gizi buruk, hipertensi, terapi komplementer untuk kanker, penanganan stroke, diabetes, serta gangguan fungsi hati. Taruna juga menyoroti pentingnya kolaborasi antar berbagai sektor, melibatkan berbagai pihak seperti pemerintah, lembaga penelitian, perguruan tinggi, akademisi, praktisi, dan masyarakat. Kerja sama ini diharapkan dapat memberikan kontribusi yang signifikan terhadap keberhasilan pengembangan dan pemanfaatan hasil riset obat bahan alam. "Dampak dari pengembangan obat asli Indonesia ini sangat penting. Kita berharap produknya dapat menjadi pelengkap dalam memenuhi kebutuhan nasional, terutama untuk menangani 10 penyakit utama yang telah disebutkan," ungkapnya. Lebih lanjut, Rumah Sakit Universitas Airlangga (RS Unair) di Jawa Timur telah menjadi situs percobaan klinis yang memiliki fasilitas untuk melaksanakan uji klinik, termasuk uji klinik untuk obat berbahan alam. Wakil Rektor Bidang Riset, Inovasi, dan Pengembangan Masyarakat Unair, Ni Nyoman Tri Puspaningsih, mengungkapkan bahwa Unair memiliki pusat unggulan dalam pengembangan herbal, dengan fokus pada pemanfaatan sumber daya alam dan tanaman yang dapat diolah menjadi obat herbal terstandar serta fitofarmaka. Direktur RS Unair, Prof. Nasronudin, turut menambahkan bahwa RS Unair memiliki berbagai keunggulan dalam pengembangan fitofarmaka, mencakup ketersediaan tim peneliti, komisi etik, dan pusat pengobatan tradisional. ANTARA