**Borneonews - Banda Aceh**, Atlet *layar* merupakan salah satu kelompok yang sering terpapar sinar matahari langsung serta kebiasaannya berinteraksi dengan air laut. Mereka menjalani aktivitas ini sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari mereka.
Di pantai Gampong Jawa, Banda Aceh, kegiatan tersebut terlihat jelas saat para atlet dengan kulit kecoklatan mengikuti ajang olahraga Pekan Olahraga Nasional (PON) XXI yang berlangsung di Aceh-Sumatera Utara. Para atlet tersebut mengenakan seragam khas untuk olahraga air, yang meliputi pakaian renang, kacamata hitam beragam warna, dan pelampung yang dipakai di tubuh mereka.
Sebagian dari atlet tersebut memiliki rambut yang berubah warna menjadi pirang, sebuah indikasi dari banyaknya waktu yang mereka habiskan di bawah sinar matahari dan berlayar di lautan. Dengan bantuan dari ofisial dan rekan satu tim, mereka tampak sibuk menyiapkan *partitur* layar yang mereka gunakan. Proses ini mencakup pelonggaran tali layar yang tersangkut dan memastikan bahwa setiap sudut kain layar dalam kondisi baik, bebas dari sobekan agar siap bertanding di perairan.
Pada hari Sabtu, 14 September, sekitar pukul 11.00 WIB, angin di Pantai Gampong Jawa tampak sangat kencang, sehingga perlombaan harus ditunda. Setelah menunggu, keadaan angin mulai mendukung pada pukul 11.36 WIB, dan aktivitas balapan pun berhasil dilanjutkan. Atlet putri asal Kalimantan Timur, Sarmila, bersama rekannya Cintia Laura dan ofisial mereka, dengan cepat memindahkan layar ke tepi laut menggunakan sebuah gerobak pendorong.
Suara semangat mereka tampak menggema mengikuti jejak roda gerobak tersebut. Mereka menghadapi tantangan dari hempasan ombak dan angin yang kencang dengan semangat tinggi. Teriakan kegembiraan terdengar ketika mereka mengangkat layar dari gerobak pendorong menuju bibir pantai. Dengan layar yang telah diletakkan, Sarmila dan Cintia segera naik ke papan layar, mempersiapkan diri untuk memulai perlombaan.
Sarmila mengatur layar dengan cermat menuju titik awal perlombaan, di mana Cintia juga aktif mengendalikan mesin. Dari area pantai, ratusan penonton tidak berkedip, menyaksikan perjalanan para atlet yang bersiap untuk menjelajahi perairan. Di antara mereka, ada beberapa yang terpaksa mengalihkan pandangan karena angin yang kencang membuat mereka terkena semburan air.
Pantai yang dulunya dihancurkan oleh tsunami dua dekade silam kini dipenuhi perasaan bangga dan kagum dari masyarakat yang hadir. Transformasi rasa takut menjadi kebanggaan tampak jelas dari ekspresi wajah warga yang berduyun-duyun menyaksikan keahlian para atlet.
Merujuk pada kompetisi, Sarmila dan Cintia ikut bertanding dalam nomor internasional 420 putri pada dua hari, yaitu 14 hingga 15 September, di mana mereka akan bersaing dalam enam balapan. Pada balapan pertama, mereka mengalami masalah, yaitu layar mereka terbalik karena kesalahan teknis, sehingga mereka tidak dapat menyelesaikan perlombaan. Istilah yang digunakan dalam dunia *layar* untuk kejadian ini adalah *Did Not Finish* (DNF).
Namun, Sarmila menilai bahwa insiden tersebut belum mengakhiri harapan mereka. Dengan semangat juang yang tinggi, Sarmila yang berhasil meraih medali emas termuda di PON XX Papua 2021, bersama Cintia, bertekad untuk bangkit dari situasi tersebut. Mereka berhasil menunjukkan bahwa prestasi emas yang diraih sebelumnya bukan hanya sekadar keberuntungan semata.
Setelah kejadian di balapan pertama, tim dari Kalimantan Timur yang dijuluki 'Benua Etam' ini kemudian berhasil meraih posisi pertama tiga kali dari lima balapan berikutnya, mengumpulkan total poin bersih tujuh. Di tempat kedua, terdapat atlet dari Sulawesi Selatan, Shabrina dan Naesya, yang meraih 10 poin. Sementara itu, Kalimantan Utara diwakili oleh atlet Riska dan Niken dengan 13 poin, dan Jawa Timur serta Kepulauan Seribu menutup rangkaian dengan 17 dan 21 poin masing-masing.
Dengan hasil ini, Sarmila dan Cintia berhasil menggenggam medali emas, setelah perlombaan di semua nomor pada Senin, 16 September, terpaksa dibatalkan akibat cuaca buruk. Hal ini memperlihatkan bahwa perolehan medali kali ini didasarkan pada performa dari kedua hari sebelumnya.
Dalam situasi yang hipotetis, Sarmila pernah ditanya tentang kemungkinan jika mereka tidak menyelesaikan balapan pertama. Meskipun mereka menyadari potensi yang ada, mereka tetap percaya diri dan sudah bersiap untuk kompetisi jika dijadwalkan ulang. Sarmila memahami bahwa keputusan perlombaan sepenuhnya berada di tangan panitia, sementara situasi cuaca yang tidak mendukung akhirnya mengharuskan para atlet kembali ke pantai.
Bagi Sarmila, pengharapan akan keberuntungan tidak menjadi rencana utamanya. Menghabiskan waktu untuk meratapi nasib tanpa bertindak lanjutan bukanlah pilihan. Mereka telah membuktikan bahwa kegagalan pada langkah awal tidak mengartikan berakhirnya seluruh proses. Sementara itu, semangat yang tepat dapat mengubah kegagalan menjadi motivasi untuk meraih hasil baik di masa mendatang.
Tatapan Sarmila mengungkapkan ambisi dan tekadnya untuk meraih medali emas di SEA Games 2025 mendatang. Berlatar belakang emas yang terbalik di Gampong Jawa, kini dua wanita, Sarmila dan Cintia, menjadi simbol keberhasilan.
ANTARA
Sarmila dan Cintia Raih Emas Setelah Layar Terbalik di PON 2024
Bagikan:

JAKARTA –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Dokter Jadi Tersangka Dugaan Pencabulan terhadap Anak Kandung Berusia 4 Tahun
Dampak Karhutla bagi Kesehatan Bukan Hanya Gangguan Pernapasan
Karhutla Ancam Habitat Orangutan di Kalteng, Patroli dan Evakuasi Satwa Diperkuat
Hadapi Isenmulang FC, PSIM Fokus Pulihkan Fisik dan Benahi Pertahanan
Jadwal Super League: Persib Hadapi Garudayaksa, Derbi Suramadu Warnai Pekan Ketujuh
Pria di Sampit Dilaporkan ke Polres Kotim atas Kasus Asusila terhadap Anak 8 Tahun
Komentar (0)
Memuat komentar…







