BORNOENEWS, Pangkalan Bun - Keinginan Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) meraih penghargaan Piala Adipura Paripurna pada tahun 2017, tampaknya bakal terwujud. Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kobar telah menyiapkan dua inovasi demi penghargaan Piala Adipura tertinggi itu.

Kepala BLH Kobar Fahrizal Fitri mengatakan, untuk meraih penghargaan Piala Adipura Paripurna itu tentu saja harus didukung oleh semua elemen masyarakat. Namun untuk masalah dukungan tidak akan menjadi kendala, karena terbukti kabupaten yang berjulukkan Bumi Marunting Batu Aji itu telah 10 kali meraih Piala Adipura secara berturut-turut.

"Harus ada inovasi yang menjadi kunci terwujudnya harapan kita bersama itu. Dan saat ini kami telah menyiapakan dua inovasi diantaranya, pemanfaatan sampah menjadi energi dan penanganan sampah dengan reduce reuse recycle (3R)," ujar Fahrizal di ruang kerjanya, Rabu (3/8/2016).

Ia menjelaskan, inovasi memanfaatkan sampah menjadi energi adalah mengubah sampah menjadi energi listrik, dengan gas metan yang dihasilkan. Kemudian, inovasi penanganan sampah dengan 3R, yang artinya adalah konsep penanganan sampah dengan cara Reduce (mengurangi), Reuse (menggunakan kembali) dan Recycle (mendaur ulang) sampah mulai dari sumbernya.

Lebih lanjut, reduce adalah upaya mengurangi volume sampah. Reuse adalah upaya menggunakan kembali sampah tanpa perubahan bentuk untuk kegiatan lain yang bermanfaat. Recycle adalah upaya mendaur ulang sampah menjadi benda lain yang bermanfaat. Komposter adalah alat untuk mengolah sampah organik menjadi kompos. UDPK (Usaha Daur Ulang dan Produksi Kompos) adalah suatu model usaha pemanfaatan sampah organik dan anorganik melalui daur ulang dan pembuatan kompos.

"Pengomposan dengan mendirikan rumah pilah 3R, berskala komunal. Mendirikan depo-depo yang nantinya akan ada satu disetiap kelurahan," sebutnya.

Untuk sekarang, lanjut dia, sudah dijajaki dengan konsultan dan pemaparannya pun sudah dilakukan dan mudah-mudahan bisa dimasukkan dalam kegiatan. Menurutnya, tentu saja dibutuhkan keterlibatan masyarakat.

"Ada nilai ekonomis bagi masyarakat dan keuntungan. Hasil pengomposan itu nantinya dijual. Terkait itu, kabar baiknya untuk pembelinya sudah ada kita siapkan," katanya. (CECEP HERDI/m)