**Borneonews - Ankara**, Prancis dan Amerika Serikat pada hari Kamis, 19 September, memberikan pernyataan yang menekankan pentingnya pengekangan diri dari semua pihak yang terlibat di kawasan Timur Tengah. Menteri Luar Negeri AS, Antony Blinken, menyampaikan seruan tersebut dalam sebuah konferensi pers yang berlangsung setelah pertemuannya dengan Menteri Luar Negeri Prancis, Stephane Sejourne, di Paris.
Blinken mengungkapkan bahwa kedua negara tersebut berkomitmen untuk mencari solusi gencatan senjata di Gaza. Menurutnya, menciptakan gencatan senjata ini masih memungkinkan dan sangat diperlukan dalam situasi saat ini. Namun, ia menekankan bahwa upaya untuk mencapai kesepakatan damai tidak boleh disertai dengan tindakan eskalasi yang dapat mempersulit proses tersebut.
Menteri Luar Negeri Prancis yang baru dilantik, Sejourne, menyatakan keprihatinannya terhadap kondisi yang belakangan ini semakin memburuk di Timur Tengah. Ia menegaskan pentingnya semua pihak untuk meredakan ketegangan dan berusaha menghindari konflik lebih lanjut. Sejourne juga menggarisbawahi komitmen Prancis terhadap Lebanon, menekankan bahwa negara tersebut tidak akan mampu pulih dari jalan menuju perang total.
Ketegangan di wilayah tersebut semakin meningkat, terutama antara Israel dan Hezbollah. Ini terjadi setelah serangkaian ledakan yang menghancurkan perangkat *wireless* bernama "ICOM" di seluruh Lebanon pada hari Rabu, yang menyebabkan 25 orang tewas serta lebih dari 450 orang mengalami luka-luka. Kejadian tersebut menyusul ledakan sebelumnya pada hari Selasa, yang menyerang perangkat *pager*, mengakibatkan 12 kematian, termasuk dua anak, dan melukai sekitar 2.800 orang, dengan 300 di antaranya dalam kondisi kritis.
Pemerintah Lebanon dan Hezbollah menyalahkan Israel atas insiden ini, dan mereka juga mengancam akan memberikan konsekuensi yang serius terhadap Israel. Namun, sampai saat ini, pihak Israel belum memberikan komentar mengenai serangkaian ledakan tersebut yang terjadi di tengah meningkatnya ketegangan antara mereka dan Hezbollah.
Di sisi lain, perang yang berkepanjangan di Jalur Gaza juga terus memakan korban jiwa, di mana hampir 41.300 orang dilaporkan tewas. Sebagian besar dari mereka adalah wanita dan anak-anak, sebagai dampak dari serangan lintas batas yang diluncurkan oleh Hamas pada 7 Oktober lalu. Keadaan ini semakin memperburuk situasi kemanusiaan di kawasan yang sudah rentan.
ANTARA
Prancis dan AS Serukan Penurunan Ketegangan di Timur Tengah
Bagikan:

JAKARTA –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
LDII Kalteng Tekankan Gotong Royong untuk Penanganan Karhutla
Agustiar Sabran Ajak Tokoh Lintas Agama Perkuat Persatuan Hadapi Karhutla
Bupati Kobar Bermalam di TNTP, Tinjau Pemadaman Karhutla dan Kebutuhan Relawan
Adyos/Yayang Sabet Perunggu para Tenis Meja Ganda Putra Kelas MD8
PLN Berencana Sewa PLTD 20 MW Selama Lima Tahun di Kapuas
Polres Bartim Ajak Masyarakat Peduli Lingkungan Lewat Green Policing di Pasar
Komentar (0)
Memuat komentar…







