PALANGKARAYA –
**Borneonews - Sampit, Kalimantan Tengah**, Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) berkomitmen untuk membantu para petani mengatasi berbagai tantangan dan keterbatasan yang dihadapi mereka. Salah satu langkah yang diambil adalah melalui penyaluran ribuan bibit tanaman buah dan sayuran. Bupati Kotim, Halikinnor, menjelaskan bahwa upaya ini merupakan bagian dari strategi untuk mewujudkan ketahanan pangan di daerah tersebut. Dalam sambutannya di Sampit, beliau menyatakan pentingnya meningkatkan sektor pertanian melalui berbagai program dan kegiatan yang berkelanjutan. "Hari ini, kami menyerahkan alat mesin pertanian dan bibit kepada para petani," ungkapnya. Bantuan yang diberikan oleh pemerintah mencakup beragam bibit buah-buahan yang akan disebar ke tiga kecamatan, yaitu Kecamatan Parenggean, Kota Besi, dan Mentaya Hilir Utara. Dalam program ini, disalurkan 5.035 batang bibit jeruk, 4.035 batang durian, dan 2.000 batang lengkeng. Di samping itu, bantuan juga mencakup bibit sayuran seperti cabai, tomat, terong, dan kacang panjang yang akan didistribusikan ke Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Baamang, Kota Besi, dan Bukit Santuai. Untuk meningkatkan produksi kopi, pemerintah menyediakan 3.675 batang bibit kopi yang terdistribusi di Kecamatan Teluk Sampit, Cempaga, Baamang, dan Seranau. Lebih jauh lagi, pemerintah juga memberikan bibit padi untuk lahan seluas 722 hektare dan bibit jagung untuk 390 hektare, di mana penanaman perdana telah dilaksanakan sebelumnya. Halikinnor menegaskan bahwa Kotim mempunyai potensi besar untuk menjadi kabupaten yang mandiri dalam memproduksi pangan, sekaligus berkontribusi terhadap ketahanan pangan nasional. Namun, ia mengingatkan bahwa ada banyak faktor yang dapat mempengaruhi ketahanan pangan, termasuk bencana alam, perubahan iklim, pengelolaan sumber daya alam yang kurang baik, serta alih fungsi lahan pertanian menjadi lahan non-pertanian. Tata ruang di Kotim sendiri terbagi ke dalam tiga wilayah; wilayah selatan berperan sebagai penyangga ketahanan pangan dalam bentuk tanaman padi, wilayah tengah berfokus pada industri, perdagangan dan jasa, dan wilayah utara ditujukan untuk perkebunan serta pertanian secara luas. Ironisnya, tren terakhir menunjukkan bahwa banyak petani di Kotim lebih memilih untuk beralih ke bisnis perkebunan kelapa sawit yang dianggap lebih menjanjikan. Padahal, menurut Halikinnor, jika dikelola dengan baik, pertanian padi dapat memberikan potensi ekonomi yang lebih tinggi. Ia memberi contoh bahwa lahan padi seluas lima hektare bisa menghasilkan panen dua kali dalam setahun dengan hasil yang cukup signifikan, sementara kelapa sawit memerlukan lahan yang lebih luas untuk mendapatkan hasil yang sama. Dengan adanya bantuan bibit dan dukungan dari pemerintah, diharapkan petani dapat termotivasi untuk tetap berkomitmen pada usaha pertanian mereka, serta berusaha untuk mengembangkan dan meningkatkan produktivitas di bidang pertanian. ANTARA