**Borneonews - Bali**, Perum Bulog saat ini sedang berada dalam tahap penjajakan terkait rencana akuisisi beberapa produsen beras yang berlokasi di Kamboja. Direktur Transformasi dan Hubungan Kelembagaan Bulog, Sonya Mamoriska, menegaskan bahwa saat ini mereka masih melakukan penelaahan awal dan mempertimbangkan berbagai alternatif yang ada.
Sonya menjelaskan, Bulog belum mendapatkan arahan atau keputusan lebih lanjut dari direktur utama yang baru, Wahyu Suparyono. Penantian ini dirasa penting untuk mengetahui arah investasi yang akan diambil terkait produsen beras di Kamboja.
"Beliau (Wahyu Suparyono) belum memberikan instruksi mengenai investasi di masa depan, karena masih dalam proses konsolidasi. Kami juga perlu melihat tanda-tanda dari pemerintahan yang baru," tuturnya.
Bulog memiliki beberapa potensi opsi untuk menjalin kerjasama dengan mitra internasional, yang dapat dilakukan melalui perdagangan dan ekspor-impor, akuisisi saham, hingga pengembangan infrastruktur seperti *rice milling* atau pabrik penggilingan padi.
Sonya menekankan bahwa setiap opsi tersebut memerlukan kajian yang mendalam untuk menganalisis keuntungan serta total biaya yang akan dikeluarkan. Selanjutnya, Bulog akan berupaya menemukan partner yang sesuai untuk menjalankan rencana ini.
"Itu adalah beberapa opsi kerjasama yang dapat kita eksplorasi. Tentu saja, kajian yang lebih mendalam sangat diperlukan agar kita bisa memperoleh manfaat optimal dan mengetahui rasio biaya yang terlibat," imbuh Sonya.
Sebelumnya, Presiden Joko Widodo memberikan instruksi kepada Bulog untuk mengakuisisi sejumlah sumber beras dari Kamboja. Proses ini diyakini dapat memberikan jaminan stok cadangan beras dalam negeri yang aman dan terkendali.
Menurut data yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS), produksi beras nasional mengalami penurunan sebesar 1,39 persen pada tahun 2023. Dari angka 31,54 juta ton pada tahun 2022, produksi beras tahun ini tercatat sebesar 31,10 juta ton.
BPS menambahkan bahwa produksi beras di Indonesia mengalami fluktuasi akibat berbagai faktor. Beberapa di antaranya adalah dampak krisis iklim, berkurangnya luas lahan pertanian, kondisi tanah, serta masalah akses terhadap pengairan. Hal ini berimbas pada penurunan produksi padi yang mencapai 17,54 persen pada periode Januari-April 2024 dibandingkan tahun sebelumnya, di mana produksi mencapai 22,55 juta ton.
Di sisi lain, konsumsi beras per kapita di Indonesia tergolong tinggi jika dibandingkan dengan negara lain. Pertumbuhan jumlah penduduk yang pesat menjadi salah satu penyebab utama meningkatnya permintaan akan beras. Oleh karena itu, untuk menanggulangi kesenjangan antara produksi dan konsumsi, impor beras dipandang sebagai solusi agar tidak terjadi kelangkaan yang bisa mendorong kenaikan harga beras secara drastis.
Pada tahun ini, Perum Bulog telah mendapatkan izin untuk mengimpor beras sebanyak 3,6 juta ton guna menjaga stabilitas harga dan ketersediaan pangan di dalam negeri.
ANTARA
Bulog Lakukan Penjajakan Akuisisi Produsen Beras Kamboja
Bagikan:

JAKARTA –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Meski Awal Musim Hujan di Kapuas Diprediksi November, El Nino Berpotensi Kurangi Intensitas Hujan hingga 2027
Induk Orangutan Terluka Tetap Jaga Anaknya di Tengah Kepungan Karhutla Desa Kandan Kotim
664 Hektare Eks Konsesi PWN di Lamandau Terbakar
Sembunyikan Sabu Seberat 306,7 Gram di Bawah Kasur, Bandar Narkoba di Sampit Dibekuk Polisi
Generasi Tua Dayak Tola' Keluhkan Bahasa Daerah yang Kian Menghilang
Tavares Soroti Penyelesaian Akhir Persebaya Usai Kalah dari PSM
Komentar (0)
Memuat komentar…







