JAKARTA –
**Borneonews - Deli Serdang**, Aceh menunjukkan potensinya sebagai kiblat baru dalam dunia bulu tangkis nasional setelah tampil mengesankan di Pekan Olahraga Nasional (PON) 2024 yang berlangsung di GOR PBSI Sumut, Deli Serdang. Ganda putri yang terdiri dari Mutia Dita Ainul Baroroh dan Rista Berlian Maharani berhasil mencapai semifinal dan berhasil mencatatkan prestasi yang membanggakan. Meskipun mereka mengalami kekalahan dengan skor 16-21, 19-21 dari ganda putri Jawa Timur, Bernadine Anindya Wardana dan Velisha Christina, pencapaian ini tetap menjadi sumber kebanggaan bagi kontingen bulu tangkis Aceh. Hal ini diperkuat dengan keberhasilan mereka menundukkan unggulan keempat, yakni pasangan dari Jawa Timur, Dwi Nur Septiani dan Nadia Marshela Putri, pada babak earlier yang memberikan kejutan dengan skor 21-14, 21-15. Dengan perolehan medali perunggu ini, Aceh mencatatkan sejarah baru, karena ini adalah kali pertama provinsi tersebut meraih medali dalam kategori bulu tangkis di ajang PON. Satu tahun sebelumnya, di ajang Kejuaraan Nasional 2023, Mutia dan Rista juga berhasil membawa pulang medali perunggu dalam kategori ganda dewasa putri. "Kami sangat bangga. Ini adalah sejarah bagi kami," ungkap Mutia, yang berasal dari Meulaboh, Aceh Barat. Rista, meskipun berasal dari Banjarnegara, Jawa Tengah, mengungkapkan kepuasannya bisa membantu Mutia dalam mengharumkan nama Aceh. Keduanya telah bersahabat sejak mengikuti audisi umum Perkumpulan Bulu Tangkis (PB) Djarum pada tahun 2015. "Kami saling memahami karena kami sudah dekat. Itu membuat permainan kami lebih mudah," jelas Mutia. Pelatih bulu tangkis Aceh, Fadhlul Hadi, meski menganggap hasil ini belum sepenuhnya memuaskan, tetap merasa bangga terhadap pencapaian anak didiknya. "Mereka mampu bersaing dan mengganggu dominasi pebulu tangkis dari Pulau Jawa," ujar Fadhlul. Terlebih lagi, dalam semifinal, pertandingan mereka berlangsung ketat, menunjukkan bahwa Aceh mampu bersaing di level yang lebih tinggi. Fadhlul berharap prestasi ini dapat memotivasi generasi muda di Aceh untuk terus berlatih dan menciptakan Pebulu tangkis handal seperti Mutia dan Rista. Namun, Fadhlul juga mencatat bahwa dengan kemungkinan regulasi U-21 yang akan diterapkan, dua pebulu tangkis ini mungkin tidak dapat berkompetisi di PON mendatang pada tahun 2028 mendatang di Nusa Tenggara Barat atau Nusa Tenggara Timur. Untuk ke depannya, Fadhlul menegaskan pentingnya perhatian pemerintah daerah dalam meningkatkan fasilitas olahraga di Aceh. "Kami berharap dengan momen PON Aceh-Sumut 2024, pemerintah memperbaiki fasilitas GOR bulu tangkis. Fasilitas yang memadai penting untuk mendukung perkembangan atlet," jelasnya. Sementara Mutia juga menyampaikan bahwa meski di Meulaboh sudah ada lima GOR, fasilitas tersebut belum berstandar nasional. "Dulu hanya dua, setelah saya bergabung dengan PB Djarum, kini ada lima. Namun, untuk pertandingan resmi masih belum memadai," ungkap Mutia. Kekurangan fasilitas dan minimnya kejuaraan di Aceh membuat potensi atlet tidak terasah dengan baik. Ketiadaan kompetisi menghambat perkembangan teknik dan mental atlet, yang seharusnya terlatih dalam kondisi pertandingan. Ini menjadi tantangan utama bagi Aceh yang ingin menghasilkan pebulu tangkis yang mampu bersaing di tingkat nasional dan internasional. Fadhlul juga menambahkan bahwa persiapan untuk kejuaraan mendatang harus dilakukan dengan serius, dan mereka bahkan telah merencanakan pelatihan di Jakarta selama tiga bulan untuk mendapatkan lawan tanding yang lebih berkualitas. "Namun, ini bukan solusi permanen karena biayanya sangat tinggi dan jarak yang jauh," kata Fadhlul. Akhirnya, Mutia mengajak atlet muda untuk semangat dan belajar dari pengalaman. "Jika ingin bersaing secara nasional, kadang kala harus keluar dari Aceh untuk mendapatkan pelatihan dan pengalaman yang lebih baik," tutupnya. ANTARA