SAMARINDA –
**Borneonews - Samarinda**, Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Kalimantan Timur aktif melaksanakan program pendidikan politik bagi generasi Z di daerah ini, dengan tujuan untuk menumbuhkan pemilih pemula yang cerdas. Inisiatif ini dianggap penting menjelang pemilihan serentak kepala daerah yang akan datang, di mana setiap warga negara yang sudah mencapai usia 17 tahun berhak untuk memberikan suaranya. Ketua Bawaslu Kaltim, Hari Dermanto, dalam pernyataannya, menggarisbawahi bahwa pemilu adalah hak konstitusional yang dimiliki oleh setiap individu warga negara. Pada kesempatan terbaru, Bawaslu Kaltim berkunjung ke SMAN 13 Samarinda pada tanggal 19 September untuk memberikan sosialisasi kepada ratusan pelajar mengenai pentingnya berpartisipasi aktif dalam proses berdemokrasi. “Sebagai negara yang menganut sistem demokrasi, Indonesia memiliki karakteristik yang mencakup perlindungan kebebasan berpendapat, pengakuan terhadap kedaulatan rakyat, penyelenggaraan pemilihan umum, serta penghormatan terhadap hak asasi manusia dan supremasi hukum,” terang Hari. Ia menekankan bahwa tanpa kehadiran hukum, sebuah demokrasi dapat berpotensi menjadi kekacauan. Sebaliknya, hukum yang tidak berlandaskan demokrasi dapat memunculkan tirani. Hari menekankan pentingnya menghasilkan pemimpin yang memiliki sikap demokratis, melindungi hak-hak publik, serta taat pada hukum. Kepada para siswa yang sudah memasuki usia 17 tahun, Hari mengingatkan bahwa mereka harus menyadari hak konstitusionalnya sebagai warga negara untuk memilih calon pemimpin yang akan mengarahkan kebijakan selama lima tahun ke depan. “Manfaatkanlah hak tersebut dengan sebaik-baiknya,” harapnya kepada para pelajar. Pendidikan politik yang bertema *“Semarak Pilkada Gen-Z sebagai Suara Demokrasi”* ini merupakan bagian dari upaya untuk memperkuat profil pelajar Pancasila dalam kerangka kurikulum merdeka. Melalui program ini, Bawaslu Kaltim berupaya menyampaikan berbagai informasi berkaitan dengan pemilihan kepala daerah, sekaligus juga meningkatkan tingkat partisipasi para siswa sebagai pemilih pemula yang paham dalam menggunakannya. Lebih jauh, Hari berharap bahwa pelatihan politik ini dapat mengubah para pelajar menjadi agen perubahan yang berkontribusi dalam menjaga integritas dan proses demokratis pada setiap tahapan pemilihan umum. “Dengan pendidikan politik yang berkualitas, kita dapat menciptakan generasi muda yang sadar akan pentingnya partisipasi dalam demokrasi dan mampu menjaga integritas pemilu,” tutupnya. ANTARA