**Borneonews - Banda Aceh**, Dalam suasana hujan deras dan cuaca berangin, Stadion Harapan Bangsa di Banda Aceh dipenuhi oleh ribuan penonton, yang menambah semangat pertandingan. Pada hari Senin malam, 16 September, berlangsung pertarungan semifinal cabang sepak bola putra dalam Pekan Olahraga Nasional (PON) XXI Aceh-Sumatera Utara 2024. Tim yang bertanding adalah Jawa Timur melawan tuan rumah Aceh.
Di pinggir lapangan, seorang pria paruh baya berpakaian rapi dengan topi hitam terlihat gelisah, berdiri persis di depan bench tim Jawa Timur. Dia adalah Fakhri Husaini, pelatih berusia 59 tahun yang berasal dari Aceh, dan saat itu ia menyaksikan anak-anak didiknya berjuang di lapangan. Kondisi saat itu mengharuskan timnya mengejar ketertinggalan satu gol (0-1) dari Aceh.
Sebagai pelatih yang berpengalaman, Fakhri berusaha memfokuskan perhatian agar timnya kembali bisa beraksi dengan baik. Dengan tangan yang menunjuk, ia memberikan instruksi kepada para pemain. Kerja kerasnya membuahkan hasil ketika timnya berhasil membalikkan keadaan dan memenangkan pertandingan dengan skor 3-2, yang sekaligus mengantarkan Jawa Timur ke final.
Fakhri Husaini memiliki keahlian dalam membentuk tim yang solid, meskipun persiapan yang dilakukan sangat singkat. Ia mengambil pengalaman dalam karir kepelatihannya untuk memastikan Jawa Timur meraih medali emas dalam kejuaraan tersebut. Pertandingan final akan mempertemukan Jawa Timur dengan tim tetangga, Jawa Barat, di mana keahlian Fakhri diakui oleh para penggemar sepak bola di seluruh tanah air.
Ia memastikan bahwa persiapan timnya tidak terhalang oleh waktu, ia hanya perlu memahami taktik lawan dan cara terbaik melatih anak-anak didiknya untuk bersaing di lapangan. Tim asuhnya akhirnya mengalahkan Jawa Barat dengan skor tipis 1-0, dan meraih medali emas yang telah lama dinantikan setelah 16 tahun puasa medali emas di PON.
"Untuk persiapan tim ini, kami hanya memakan waktu dua bulan," ungkap Fakhri setelah menerima medali emas tersebut. Dalam proses persiapan, dia menghadapi tantangan ketika enam pemain terpilih terpaksa mundur untuk bergabung dengan liga yang lebih tinggi. Namun, ia merasa beruntung karena Jawa Timur memiliki banyak pemain muda berbakat, sehingga proses pembentukan tim tetap dapat berjalan dengan baik dan mereka sukses menjadi juara.
Fakhri mengungkapkan bahwa banyak pemain berkualitas yang seharusnya bisa bergabung dalam tim PON. Ia juga sempat mengamati seorang striker muda dari tahun kelahiran 2005, namun tidak bisa merekrutnya lantaran kendala administratif.
Kemenangan ini menegaskan bahwa Jawa Timur merupakan ladang pemain muda potensial bagi tim nasional di masa mendatang. Keberhasilan di PON XXI Aceh-Sumut menjadi bukti penting atas potensi tersebut.
Ini adalah kedua kalinya Fakhri Husaini melatih di PON setelah sebelumnya membina tim Aceh di PON Papua 2021. Ambisinya untuk meraih medali emas akhirnya terwujud bersama Jawa Timur, sementara pada PON yang sebelumnya, ia dan timnya gagal meraih emas ketika menghadapi Papua, meski berhasil mencapai final.
Kekalahan di PON Papua 2021 masih membekas di ingatan Fakhri. Timnya saat itu harus berpuas diri membawa pulang medali perak setelah kalah dari tim tuan rumah dengan skor 2-0. Ia menyadari bahwa kekalahan tersebut tidak semata-mata disebabkan oleh performa timnya yang kurang baik, tetapi juga karena beberapa keputusan yang merugikan dari wasit.
Fakhri sangat berharap perlakuan wasit tidak merugikan timnya di PON XXI Aceh-Sumut sehingga pertandingan dapat berjalan adil dan sesuai dengan semangat olahraga. Dia mengingat betapa pentingnya keputusan yang bijak dari wasit untuk menjaga keindahan permainan dan memastikan kemenangan benar-benar ditentukan oleh kemampuan pemain di lapangan.
Setelah mendapatkan medali emas di PON XXI, Fakhri Husaini mengungkapkan ingin memberi yang terbaik untuk anak-anak didiknya. Ia berencana bertemu dengan semua pemain dan memberi pesan agar mereka memilih klub yang tepat dan tidak terlalu cepat berpuas diri atas pencapaian di PON.
"Kalian harus ingat untuk terus berkembang dalam dunia sepak bola. Kesuksesan di PON hanyalah satu langkah menuju karir yang lebih baik," katanya. Ia berharap para pemain tidak terjebak dalam ketenaran yang dapat mengganggu fokus mereka dan menyebabkan karir mereka berakhir lebih cepat dari yang diharapkan.
Fakhri juga mengingatkan pentingnya kemampuan untuk mengontrol diri, agar tidak kehilangan fokus dan tujuan dalam menjalani karir sebagai pesepakbola profesional. Dengan rasa cinta yang mendalam terhadap sepak bola, ia ingin melihat anak-anak didiknya meraih kesuksesan yang lebih besar di masa depan.
ANTARA
Fakhri Husaini, Pelatih Jatim Raih Emas di PON Aceh-Sumut 2024
Bagikan:

BANDA ACEH –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Ganda Putri Isyana/Rinjani Sabet Gelar Juara Indonesia Masters
Arema FC Libas Dewa United 4 Gol Tanpa Balas
Veda Ega Alihkan Fokus ke GP Malaysia Usai GP Australia Batal
Shin Tae-yong Tekankan Pembinaan Usia Dini untuk Majukan Sepak Bola
Madura United Bidik 3 Poin saat Hadapi Persebaya
Tentara Yaman Lumpuhkan Lebih dari 300 Petempur Houthi
Komentar (0)
Memuat komentar…







