JAKARTA –
**Borneonews - Pematang Siantar**, Setiap gelaran Pekan Olahraga Nasional (PON) selalu menyimpan beragam kisah menarik. Tidak hanya atlet yang berlaga menjadi sorotan, tetapi juga sosok-sosok di belakang layar yang memberikan warna tersendiri pada event tersebut. Salah satu figur yang patut dicatat dalam perjalanan PON adalah Evaritus Mateus Moah. Di usianya yang mencapai 69 tahun, Mateus telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari dunia tinju di Indonesia. Sejak PON XV yang berlangsung di Jawa Timur pada tahun 2000, Mateus hampir tidak pernah absen mengunjungi arena tinju di setiap penyelenggaraan PON. Meskipun bukan seorang atlet atau pelatih, dia dikenal sebagai penjual suvenir yang mencakup berbagai aksesori bertema tinju, termasuk gantungan kunci, kalung, hingga ikat pinggang. Pada final cabang olahraga tinju yang diadakan di Universitas HKBP Nommensen, Pematang Siantar, Sumatera Utara, pada Kamis (19/9), terlihat Mateus duduk dengan tenang di belakang lapak dagangannya. Penampilannya yang mengenakan pakaian dengan motif tinju mencerminkan kecintaannya yang mendalam terhadap olahraga ini. Mateus, yang berasal dari Maumere di Nusa Tenggara Timur, telah mencintai tinju sejak masa mudanya. Meskipun jalannya berbeda dari para petinju yang bertanding di atas ring, kehadirannya telah menjadi bagian penting dalam setiap kompetisi tinju yang digelar di seluruh Indonesia. Perjalanannya di dunia tinju dimulai pada tahun 1977 saat dia merantau ke Bogor, Jawa Barat. Di kota ini, ia menjabat sebagai pelatih tinju selama 21 tahun, dari tahun 1995 hingga 2016. Kehidupan wanitanya mulai bertransformasi pada 9 September 1999, ketika ide untuk membuat suvenir sebagai kenang-kenangan bagi penggemar tinju terbayang dalam pikirannya. Dari sanalah muncul berbagai pernak-pernik bertema tinju yang hingga kini ia jual. Salah satu momen yang mengubah hidupnya terjadi pada PON 2000 di Jawa Timur. Di ajang tersebut, sebanyak 600 suvenir yang ia tawarkan terjual habis hanya dalam dua hari. Pengalaman ini semakin memotivasi Mateus untuk aktif dalam berbagai kejuaraan tinju, baik di tingkat daerah maupun nasional. "Setiap ada event tinju, pasti saya hadir," ungkapnya dengan penuh kebanggaan. Akan tetapi, Mateus harus merelakan satu kesempatan untuk hadir di PON XX/2021 Papua karena saat itu dia belum mendapatkan vaksin. Ini adalah PON pertama yang ia lewatkan sejak tahun 2000. Bagi Mateus, tinju bukan sekadar hobi, melainkan sebuah cinta yang mendalam. Ia rela menempuh perjalanan panjang demi menghadiri setiap acara tinju. Misalnya, dalam perjalanan ke PON 2024, ia menempuh perjalanan bus selama lima hari dari Bogor ke Pematang Siantar, meski menghadapi berbagai kendala seperti bus yang beberapa kali mogok. Namun, semua rintangan tersebut baginya adalah bagian dari petualangan yang penuh kebahagiaan. "Saya menantikan PON, sama seperti para atlet," katanya. Sekalipun mendekati usia 70 tahun, semangatnya untuk hadir dalam setiap turnamen tinju tetap berkobar. Mateus memaknai tinju sebagai sebuah perjalanan hidup yang dijalaninya dengan penuh kasih, layaknya cinta yang tak mengenal batas usia. Suvenir yang dihasilkannya bukan hanya berupa produk jualan, melainkan juga simbol dari nilai-nilai yang terkandung di dalam dunia tinju. Ukuran pernak-pernik yang beragam menggambarkan kelas dalam tinju, mulai dari kelas terbang mini hingga kelas berat. Kali ini, pada PON 2024, ia menyesuaikan produk yang dijualnya dengan kelas-kelas yang dipertandingkan. Ternyata, tak ada suvenir untuk kelas berat, yang biasanya selalu ada di lapaknya, karena di ajang ini kelas tertingginya justru adalah berat ringan. Mateus membuat berbagai produk seperti gantungan kunci, kalung, dan ikat pinggang dengan tangan, tanpa menggunakan mesin. Harganya pun bervariasi mulai dari Rp15 ribu, meski untuk produk dengan harga tertinggi, ia tak mau menyebutkan dengan rinci. Perjalanan Mateus ke PON 2024 di Pematang Siantar menegaskan dedikasinya dan pengorbanannya untuk olahraga tinju yang dicintainya. Lima hari perjalanan yang melelahkan dan berbagai rintangan tidak membuatnya kehilangan semangat. Ia harus mengakui bahwa penjualannya di dua hari pertama kejuaraan cukup sepi, tetapi hal itu tidak menghentikannya untuk meneruskan mesej cinta yang dibawanya. "Kadang ramai, kadang sepi. Saya nikmati saja. Ini sudah jalan hidup saya," tuturnya dengan tenang, seraya enggan merincikan omzet yang diraih. Mateus tidak hanya dikagumi karena cintanya, tetapi juga karena cara hidupnya yang sederhana. Meskipun di tengah kesibukan, ia menyempatkan diri berbagi cerita tentang tempat tinggalnya di Pematang Siantar, yang ia sebut "Hotel Ampar Jaya". Istilah tersebut merujuk pada cara uniknya beristirahat dengan menggelar tikar di mana saja yang dianggap nyaman. "Di 'Hotel Ampar Jaya', saya bisa tidur di mana saja, asal nyaman," jelas Mateus disertai tawa bahagia. Dengan kesederhanaan hidupnya, semangat Mateus untuk mencintai tinju tetap menyala. Setelah PON 2024 berakhir, ia berencana kembali ke Bogor dengan membawa cerita dan mungkin beberapa suvenir yang belum terjual. Namun yang terpenting baginya adalah kepuasan karena telah menjadi bagian dari sejarah tinju di Indonesia. Di mana pun tinju ada, di situ akan selalu ada Mateus. ANTARA