BANDA ACEH –
**Borneonews - Meulaboh**, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Aceh Barat, yang terletak di Provinsi Aceh, telah mengambil langkah proaktif dengan mengerahkan tim *Wildlife Response Unit* (WRU). Langkah ini dilakukan sebagai upaya mengatasi gangguan yang disebabkan oleh kawanan gajah liar di Desa Pulo Teungoh, Kecamatan Pante Ceureumen. Kepala Pelaksana BPBD Aceh Barat, Teuku Ronal Nehdiansyah, menjelaskan bahwa tim WRU dibentuk untuk meningkatkan pemantauan di area yang berpotensi terjadi konflik antara manusia dengan satwa liar. Berdasarkan hasil pengamatan terbaru, sekitar 300 batang tanaman kelapa sawit milik warga mengalami kerusakan akibat aktivitas kawanan gajah, yang menunjukkan bahwa ancaman ini cukup serius. Dengan adanya temuan kerusakan tersebut, pihak tim di lapangan akan berusaha untuk menghalau gajah yang berpotensi mengganggu pemukiman dan kebun warga. Saat ini, WRU BPBD Aceh Barat tengah bekerja sama dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh untuk menangani situasi gajah liar di Gampong Pulo Teungoh. Penanganan darurat ini merupakan langkah awal dalam mengatasi masalah ini. Teuku Ronal juga menekankan pentingnya koordinasi dengan BKSDA Aceh dan pihak swasta untuk memastikan penanganan jangka panjang terkait keberadaan gajah di daerah tersebut. Ia menyoroti bahwa penanganan darurat tidak selalu memberikan hasil yang efektif, terutama di wilayah Pante Ceureumen. Oleh karena itu, metode penanganan yang lebih permanen sedang dipertimbangkan, seperti pemasangan kawat kejut khusus untuk melindungi area dan penggunaan teknologi *GPS* guna memantau pergerakan gajah. Penjabat Bupati Aceh Barat, Mahdi Efendi, turut mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi konflik dengan satwa liar, khususnya kawanan gajah. Ia mengingatkan, aktivitas gajah biasanya meningkat pada malam hari, terutama di area perkebunan yang baru ditanami sawit, yang merupakan makanan favorit gajah. Mahdi Efendi juga menginstruksikan BPBD Aceh Barat dan instansi-instansi terkait untuk terus memantau kondisi di area rawan konflik gajah sebagai langkah pencegahan yang diperlukan. Ia meminta agar Tim WRU dan instansi terkait selalu siap siaga, terutama di Kecamatan Pante Ceureumen. Pemerintah daerah sangat berharap agar petugas melakukan pemantauan secara intensif serta mengambil langkah-langkah mitigasi awal untuk mengurangi segala risiko yang mungkin dapat membahayakan masyarakat setempat. Keberadaan tim WRU diharapkan dapat memberikan rasa aman bagi warga yang hidup di sekitar daerah yang rawan terjadinya konflik dengan satwa liar. ANTARA