JAKARTA –
**Borneonews - Tokyo**, Anies Baswedan menyampaikan kuliah umum di Sophia University, Tokyo, pada malam Jumat, 20 September. Kuliah tersebut berlangsung dengan tema yang menarik, yaitu "Demokrasi di Tangan Mereka: Bagaimana Kaum Muda Merebut Kepemimpinan di Era Digital." Kedatangan Anies ke kampus ini bukanlah yang pertama kalinya. Ia pernah menempuh pendidikan di universitas tersebut sebagai mahasiswa program musim panas 31 tahun yang lalu, pada saat ia masih belajar di Universitas Gadjah Mada di Yogyakarta. Dalam kesempatan kuliah umum ini, Anies menekankan bahwa partisipasi pemuda dalam proses demokrasi sangatlah krusial. Ia menyoroti adanya tiga elemen utama yang saling berkaitan, yaitu pemuda, teknologi, dan demokrasi itu sendiri. Menurutnya, tiga interseksi ini sangat penting bagi kemajuan Indonesia dan dunia, dalam menghadapi berbagai tantangan dan menciptakan inovasi baru dalam praktik demokrasi. Anies kemudian menguraikan lima alasan fundamental mengapa generasi muda perlu terlibat secara aktif dalam demokrasi. Pertama, untuk memastikan adanya keterwakilan dan inklusivitas. Kedua, pemuda membawa inovasi dan perspektif baru. Ketiga, hal ini sangat penting untuk stabilitas jangka panjang serta keberlanjutan demokrasi. Keempat, literasi digital dan adaptasi teknologi menjadi semakin relevan. Dan kelima, perspektif global yang diperoleh dari keterhubungan yang meningkat. Ia melanjutkan dengan pertanyaan, "Apa yang membuat anak muda memiliki ciri khas yang membedakan mereka dari kelompok lain?" Anies menjawab bahwa jawabannya adalah 'keterbaruan'. Ia menjelaskan bahwa generasi muda memberikan pandangan yang berbeda terhadap berbagai isu, yang mungkin telah dilalui oleh generasi yang lebih tua selama bertahun-tahun. Sebagai contoh, Anies mengutip penggunaan zebra cross di Dukuh Atas, Jakarta Pusat. Di mata anak muda, zebra cross tersebut tidak hanya berfungsi sebagai tempat untuk menyeberang jalan, tetapi juga digunakan sebagai *catwalk* untuk berekspresi. Perspektif baru seperti ini dinilai Anies sangat diperlukan dalam dinamika kehidupan berdemokrasi. Anies juga menekankan pentingnya memberikan kesempatan kepada pemuda untuk berperan aktif dalam pembangunan dan perdamaian. Jika pemuda diabaikan, maka hal itu dapat berakibat negatif terhadap kualitas demokrasi itu sendiri. Ia juga menegaskan bahwa meritokrasi perlu diaktifkan dalam proses politik yang sehat. Dalam pandangannya, banyak masyarakat Indonesia yang kurang memperhatikan kandidat dalam pemilihan kepala negara maupun daerah. Hasil survei menunjukkan bahwa sepertiga pemilih baru akan menentukan pilihan mereka menjelang hari pencoblosan, sementara sebagian besar lainnya akan memutuskan di saat-saat terakhir karena kesibukan mereka dengan urusan masing-masing. Anies menjelaskan mengapa meritokrasi sangat penting, terutama bagi partai politik, yang memiliki tanggung jawab moral untuk menerapkan proses yang mendukung meritokrasi dalam merekomendasikan calon untuk berbagai jabatan. Dengan penerapan sistem ini, ia percaya bahwa siapa pun yang dicalonkan tidak akan menimbulkan risiko bagi masyarakat. "Jika meritokrasi diabaikan, akan muncul kandidat-kandidat yang tidak siap," imbuhnya. Kuliah umum tersebut dihadiri oleh ratusan peserta dan diakhiri dengan sesi tanya jawab yang interaktif, di mana buku-buku diberikan kepada peserta yang mengajukan pertanyaan. Di akhir kuliah, Anies juga memberikan pesan kepada mahasiswa Indonesia yang berada di Jepang untuk senantiasa menciptakan citra positif di negara yang terkenal dengan sebutan Negeri Sakura ini. ANTARA