MAKASSAR –
**Borneonews - Makassar**, Wali Kota Makassar, Moh Ramdhan Pomanto, baru-baru ini membagikan pengalaman mengenai komitmen Pemerintah Kota Makassar dalam menerapkan konsep *low carbon city* di hadapan para mahasiswa Magister Arsitektur Sekolah Arsitektur Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan (SAPPK) di Institut Teknologi Bandung (ITB). Acara tersebut dilaksanakan di Bandung, Jawa Barat, pada Jumat yang lalu. Dalam pernyataan resmi yang diterima, Pomanto menguraikan bahwa upaya untuk mengurangi emisi karbon merupakan tanggung jawab bersama demi mencapai keberlanjutan kota. Ia menekankan pentingnya mengubah perilaku masyarakat agar kota dapat menjadi lebih berkelanjutan dan *resilien*. "Jika kita ingin mendesain kota kita agar lebih *sustainable*, maka perilaku kita harus berubah," tuturnya. Dalam upayanya untuk menciptakan pembangunan berkelanjutan, Pemerintah Kota Makassar mengikuti empat langkah kunci dalam pelaksanaan Makassar Low Carbon City. Langkah-langkah tersebut mencakup revisi tata ruang kota, penerapan teknologi hijau, pengembangan gerakan dekarbonisasi serta oksigenisasi, dan transformasi perilaku sosial masyarakat. Pomanto juga menjelaskan tentang tantangan global yang dihadapi saat ini, di mana suhu bumi terus meningkat akibat pertambahan jumlah populasi. Ia mencatat bahwa pada tahun 1977, populasi dunia sudah mencapai 4,2 miliar. Angka tersebut kini telah melampaui 8 miliar, dengan suhu bumi yang meningkat sebesar 1,4 derajat Celsius. Fenomena yang menggawat ini berkontribusi terhadap beragam masalah, termasuk kekurangan pangan yang disebabkan oleh industrialisasi dan eksploitasi sumber daya alam, serta penggundulan hutan. Idealnya, tingkat produksi pangan global hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan 6 miliar penduduk. "Akibat dari deforestasi, kita menyaksikan peningkatan pencemaran yang menyebabkan emisi karbon, yang kemudian berdampak pada perubahan iklim," paparnya. Dalam komitmennya untuk menciptakan kota yang lebih *sustainability*, Pemkot Makassar telah mengambil sejumlah inisiatif untuk mengurangi emisi karbon. Langkah-langkah tersebut termasuk penggunaan panel surya di instansi pendidikan dan perkantoran, pemanfaatan sampah sebagai sumber energi listrik, serta transisi menuju kendaraan listrik. "Sebanyak 200 sekolah sudah kami alihkan untuk menggunakan panel surya. Energi yang dihasilkan akan digunakan untuk penerangan jalan pada malam hari. Kami juga memiliki mobil Dottorotta, yang kini ditambah dengan 47 kendaraan bertenaga listrik," jelasnya. Inovasi melalui Dottorotta ini, ketika dipadukan dengan kebijakan pemerintah kota terkait perbaikan kualitas kesehatan, telah mendorong WHO untuk memberi penghargaan kepada Makassar sebagai Kota Sehat Asia Tenggara (ASEAN) 2024. Dekan SAPPK ITB, Prof. Sri Maryanti, memberikan apresiasi kepada Danny Pomanto atas undangannya untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman dengan para mahasiswa. "Kami sangat berterima kasih kepada pak Danny Pomanto. Beliau adalah seorang arsitek yang juga menjabat sebagai Wali Kota Makassar, sehingga memiliki keahlian di bidang ini," ujarnya. Prof. Sri Maryanti juga menyambut baik rencana kerja sama antara SAPPK ITB dan Pemkot Makassar dalam melakukan pengkajian mengenai bangunan hijau yang selaras dengan visi misi kampus. ANTARA