YOGYAKARTA –
**Borneonews - Yogyakarta**, Pemerintah Kota Yogyakarta telah mengambil langkah strategis dengan membentuk relawan kebakaran yang secara khusus bertugas di kawasan Sumbu Filosofi. Relawan ini diberi nama Nrang Dahono, dan terdiri dari berbagai elemen masyarakat lokal. Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Yogyakarta, Taokhid, menjelaskan bahwa relawan ini berasal dari dua kelompok, yaitu petugas Jogomaton yang berjaga di area Malioboro, Tugu, serta Keraton, dan juga abdi dalem Keraton Yogyakarta. Total anggota relawan tersebut berjumlah 60 orang, di mana 30 di antaranya merupakan personel Jogomaton dan 30 lainnya berasal dari abdi dalem. Sebelum resmi dilantik pada 19 September, relawan telah menjalani pelatihan yang dirancang khusus untuk meningkatkan pengetahuan serta keterampilan mereka dalam menangani bencana kebakaran. Pelatihan ini bertujuan agar para relawan dapat merespons dengan cepat dan efisien jika terjadi kebakaran di area tersebut. Taokhid menegaskan pentingnya keberadaan relawan ini mengingat risiko kebakaran di kawasan Sumbu Filosofi tergolong cukup tinggi. Hal tersebut disebabkan oleh kepadatan penduduk dan banyaknya bangunan bersejarah di lokasi itu, yang memiliki aktivitas yang sangat tinggi. Sekretaris Daerah Kota Yogyakarta, Aman Yuriadijaya, menuturkan bahwa Sumbu Filosofi adalah warisan budaya yang diakui oleh dunia. Oleh karena itu, dia menekankan perlunya penguatan sistem penyelamatan kebakaran guna melindungi warisan tersebut. Dia juga mengajak semua personel untuk terus meningkatkan kapasitas mereka serta menjalin kerja sama yang baik dengan pemerintah kota. Lebih lanjut, Aman mengingatkan perlunya memberikan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya langkah-langkah pencegahan kebakaran. Dengan adanya relawan Nrang Dahono, diharapkan dapat terbentuk sebuah sistem penanganan kebakaran yang handal di kawasan Sumbu Filosofi. GKR Mangkubumi, Penghageng Datu Dana Suyasa dari Keraton Yogyakarta, juga menyampaikan rasa terima kasihnya atas pelibatan abdi dalem dalam relawan kebakaran. Ia menekankan bahwa keberadaan relawan ini sangat penting, mengingat mayoritas bangunan di Keraton terbuat dari bahan kayu, yang lebih rentan terhadap kebakaran. Pada 18 September 2023, UNESCO mengakui Sumbu Filosofi Yogyakarta sebagai salah satu warisan dunia dalam Sidang Ke-45 Komite Warisan Dunia yang diadakan di Riyadh, Arab Saudi. Sumbu Filosofi dengan judul lengkap *The Cosmological Axis of Yogyakarta and Its Historic Landmarks* dikategorikan sebagai warisan dunia karena memiliki nilai universal yang signifikan. Konsep tata ruang di Sumbu Filosofi ini pertama kali diperkenalkan oleh Raja Pertama Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat pada abad ke-18. Ide tersebut didasarkan pada nalar Jawa yang mengedepankan struktur jalan lurus yang menghubungkan Panggung Krapyak di selatan, Keraton Yogyakarta di tengah, hingga Tugu Yogyakarta di utara. ANTARA