JAKARTA –
**Borneonews - Medan**, Pekan Olahraga Nasional (PON) XXI yang berlangsung di Aceh dan Sumatera Utara resmi ditutup pada malam Jumat di Stadion Utama Sumatera Utara. Penutupan tersebut dilakukan oleh Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy, yang mewakili Presiden Joko Widodo. Kehadiran Presiden tidak seperti biasa pada acara penutupan ini memecah tradisi yang telah ada sebelumnya, di mana acara-acara penutupan PON biasanya dipimpin oleh kepala negara atau wakil presiden. Sebagai contoh, pada PON XVII yang berlangsung di Kalimantan Timur, penutupan dilakukan oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla pada tahun 2008. Hal serupa terjadi pada PON XVIII di Riau pada tahun 2012 dan PON XIX di Jawa Barat pada tahun 2016. Selain itu, Wakil Presiden Ma'ruf Amin juga menutup PON XX yang diadakan di Papua pada tahun 2021. Walaupun penutupan PON kali ini dilakukan dengan cara yang berbeda, suasana tetap meriah dan penuh semangat. Muhadjir Effendy memberikan apresiasi kepada seluruh atlet yang telah berpartisipasi dan terutama kepada mereka yang meraih medali. "Saya mengucapkan terima kasih kepada seluruh masyarakat yang telah berkontribusi sehingga semua kegiatan berjalan dengan baik," tutur Muhadjir. Di ajang PON 2024, Jawa Barat kembali mencetak prestasi gemilang sebagai juara umum. Kontingen Jawa Barat meraih total 195 medali emas, 163 perak, dan 182 perunggu, mengukuhkan posisi mereka sebagai yang teratas dalam dunia olahraga nasional untuk ketiga kalinya secara berturut-turut. Prestasi ini dikenal dengan sebutan "Jabar Hattrick". Sebelumnya, Jawa Barat juga menjuarai PON XIX di tahun 2016 dan PON XX di tahun 2021. Ketua Umum KONI Provinsi Jawa Barat, Muhammad Budiana, menyatakan bahwa kemenangan tersebut merupakan hasil dari pembinaan yang berkesinambungan, kerja sama yang harmonis antara cabang olahraga, serta dukungan penuh dari pemerintah daerah. "Target kami untuk PON 2028 adalah mempertahankan gelar juara ini, dan yang terpenting adalah keberlanjutan dalam pembinaan," ungkap Budiana. Sementara itu, di posisi kedua, DKI Jakarta mengumpulkan 184 medali emas, 150 perak, dan 145 perunggu, diikuti oleh Jawa Timur di peringkat ketiga dengan total 146 emas, 136 perak, dan 143 perunggu. Sebagai tuan rumah, Sumatera Utara menempati posisi keempat dengan pencapaian 79 emas, 59 perak, dan 116 perunggu. Aceh, yang menjadi tuan rumah bersama Sumatera Utara, meraih peringkat keenam dengan 65 emas, 48 perak, dan 79 perunggu. Pencapaian tersebut menunjukkan peningkatan yang signifikan dibandingkan dengan PON 2021 di Papua, di mana Aceh berada di urutan ke-12 dengan 11 emas, 7 perak, dan 11 perunggu, sedangkan Sumatera Utara berada di posisi di bawahnya. Meskipun PON 2024 baru saja berakhir, perhatian kini beralih ke PON XXII yang dijadwalkan berlangsung pada tahun 2028 di provinsi Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur. Kedua provinsi ini telah sepakat untuk menamai ajang tersebut "PON Nusa Tenggara", yang mencerminkan semangat persatuan dan kerjasama antara kedua wilayah. Ketua KONI Provinsi NTB, Mori Hanafi, menyatakan bahwa kedua provinsi siap menyelenggarakan PON dengan lebih baik, belajar dari pengalaman serta tantangan yang terjadi pada PON 2024. Mori optimis bahwa persiapan arena dan cabang olahraga dalam ajang "PON Nusa Tenggara" akan dilakukan dengan lebih matang dan terencana. Salah satu hikmah yang dipetik dari penyelenggaraan PON 2024 adalah pentingnya kesiapan arena pertandingan. Menteri Pemuda dan Olahraga, Ario Bimo Nandito Ariotedjo, juga mengungkapkan fokus untuk mencapai keberlanjutan dalam penyelenggaraan PON 2028. Hal ini mencakup pengembangan potensi daerah dan pemanfaatan infrastruktur yang dibangun agar dapat digunakan setelah acara selesai. Dalam rapat evaluasi sebelum penutupan PON 2024, KONI NTB dan NTT, bersama Menpora, membahas kemungkinan adanya format baru dalam penyelenggaraan PON 2028. Meskipun rincian tentang format baru ini belum dijelaskan, Dito menegaskan bahwa setiap perubahan yang dilakukan bertujuan untuk meningkatkan efisiensi dan kesiapan dibandingkan dengan edisi sebelumnya. Pemuda berusia 33 tahun tersebut berpesan, "Hendaknya PON tidak meninggalkan jejak yang tidak bermanfaat. Yang paling penting adalah keberlanjutan." Dengan berakhirnya PON XXI/2024 di Aceh dan Sumatera Utara, catatan baru dalam sejarah olahraga Indonesia telah tertulis. Selanjutnya, perhatian semua orang kini tertuju pada PON Nusa Tenggara 2028, yang diharapkan akan mengedepankan penyelenggaraan yang lebih baik dan fokus pada keberlanjutan serta pengembangan potensi daerah. NTB dan NTT diharapkan dapat menjadikan PON 2024 sebagai pelajaran berharga untuk mencapai kesuksesan di ajang yang akan datang. ANTARA