TANJUNG SELOR –
**Borneonews - Tarakan**, Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Tarakan menjalankan program pembinaan yang bertujuan untuk memberikan bekal keterampilan dan kompetensi. Inisiatif ini dihadirkan untuk menyiapkan Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) agar mereka dapat mandiri saat kembali ke masyarakat. Kepala Lapas Kelas IIA Tarakan, Sutarno, menjelaskan bahwa program tersebut dirancang agar WBP dapat berdiri sendiri dan berperan aktif ketika bergabung kembali dengan komunitas. Untuk mencapai tujuan tersebut, Lapas Tarakan telah menyelenggarakan berbagai kegiatan kerja dan produksi dalam bidang agribisnis, industri manufaktur, serta jasa. Kegiatan ini dilaksanakan di workshop bimbingan kerja serta di area Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE). Pelaksanaan program pembinaan kemandirian ini telah disusun berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 31 Tahun 1999 mengenai pembinaan dan pembimbingan bagi WBP. Selain itu, juga merujuk pada Keputusan Direktur Jenderal Pemasyarakatan Nomor: PAS-14.OT.02.02 Tahun 2023 yang menetapkan standar kegiatan kerja dan produksi di lembaga pemasyarakatan. Sutarno menambahkan bahwa pihaknya aktif dalam menjalankan pelatihan kerja di area SAE maupun kegiatan produksi. Saat ini, Lapas Tarakan memiliki 11 kelompok kerja yang secara rutin menghasilkan berbagai produk unggulan. Beberapa produk yang dihasilkan meliputi tanaman hortikultura, hidroponik, kerajinan tangan seperti batik cap, serta berbagai kuliner seperti kopi, aneka bakso, dan produk olahan dari ikan laut. Melalui program tersebut, pihak Lapas berkomitmen untuk memberikan pengetahuan, kompetensi, dan mental yang diperlukan dalam berwirausaha. Diharapkan, bekal tersebut dapat bermanfaat tidak hanya selama berada di dalam lembaga pemasyarakatan, tetapi juga ketika kembali ke tengah masyarakat. Program pembinaan kemandirian ini melibatkan juga mitra dari pihak ketiga dalam pengelolaannya. Hasil dari kegiatan ini menunjukkan penjualan produk yang mampu bersaing di pasaran. Selain itu, program ini memberikan premi atau upah bagi WBP serta berkontribusi terhadap Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) setiap bulan. Dalam hal manajemen pemasaran, produk hasil karya WBP dipasarkan melalui metode konvensional, termasuk melalui event pameran produk lokal dan juga melalui E-katalog sektoral. Upaya ini diharapkan dapat memperluas jangkauan pemasaran dan meningkatkan pendapatan bagi WBP saat mereka kembali ke masyarakat. ANTARA