JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) bersama dengan Parlemen Peru berupaya untuk memperkuat kerja sama di berbagai bidang, termasuk pendidikan, perdagangan, dan pembangunan berkelanjutan. Inisiatif untuk meningkatkan kerja sama ini terwujud dalam kunjungan Grup Kerja Sama Bilateral (GKSB) dari Badan Kerja Sama Antar Parlemen (BKSAP), yang melakukan perjalanan ke Lima, Peru. Kunjuangan ini diterima dengan baik oleh Ketua Legislatif Republik Peru, Eduardo Salhuana Cavides. Ketua GKSB BKSAP DPR RI-Parlemen Peru, Dyah Roro Esti, menegaskan pentingnya upaya berkelanjutan antara Indonesia dan Peru untuk memperluas kolaborasi antarparlemen. Menurutnya, saling bertukar ide dan memperluas kerja sama dalam skala yang lebih luas pada tingkat multilater adalah langkah yang krusial. "Sangat dihargai setiap inisiatif dan komitmen yang muncul dalam pertemuan ini. Ini adalah bagian dari usaha kita untuk memajukan kemitraan dan kolaborasi di antara kedua negara lewat langkah-langkah yang saling memberi manfaat," ungkap Roro, yang juga merupakan anggota Komisi VII DPR, saat berbicara di Jakarta. Dalam diskusi tersebut, beberapa isu penting muncul yang diharapkan dapat ditangani bersama oleh Peru dan Indonesia. Isu-isu tersebut mencakup upaya bersama untuk mengatasi tantangan global, pengembangan sumber daya manusia (SDM) sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi, serta kerjasama ekonomi dalam perdagangan dan pembangunan berkelanjutan. Di sektor pendidikan, Roro mengungkapkan bahwa terdapat kerja sama yang telah terjalin antara Indonesia dan Peru, sebagaimana diungkapkan oleh Duta Besar Peru untuk Indonesia, Luis Tsuboyama. Dia berharap agar potensi kerja sama di bidang akademik bisa ditingkatkan, melalui program beasiswa, penelitian kolaboratif, dan pembelajaran budaya antara kedua negara. Lebih jauh, Roro menekankan bahwa Presiden terpilih Prabowo Subianto memiliki komitmen untuk menciptakan kualitas SDM yang lebih baik di Indonesia. Dalam konteks ini, mengingat Indonesia sedang mengalami bonus demografi dengan jumlah penduduk berusia produktif yang tinggi, dia berharap adanya perbaikan dalam kesehatan, gizi, pendidikan, serta transfer pengetahuan. Dalam aspek ekonomi, Roro mencatat bahwa Peru merupakan mitra dagang terbesar keempat bagi Indonesia di kawasan Amerika Latin. "Indonesia mengekspor berbagai komoditas seperti kendaraan, biodiesel, alas kaki, dan kertas. Sedangkan impor dari Peru meliputi biji coklat, anggur, dan mineral fosfat yang digunakan sebagai bahan baku pupuk," katanya. Melihat ke depan, Roro mengungkapkan keyakinan bahwa akan ada banyak peluang untuk mengembangkan kerja sama bilateral. Dia juga mendukung implementasi Indonesia-Peru Comprehensive Economic Partnership Agreement (IP-CEPA), yang diyakini akan memfasilitasi proses perdagangan barang dan jasa. Lebih lanjut, Roro menegaskan pentingnya komitmen kedua negara dalam mendukung pembangunan berkelanjutan. Dia mencatat perlunya kerjasama untuk menghadapi tantangan lingkungan global. "Peru memiliki target untuk menurunkan emisi karbon pada tahun 2050, sedangkan Indonesia menargetkan *net zero emission* pada tahun 2060, dengan rencana untuk mengurangi emisi sebesar 32 persen pada tahun 2030. Oleh karena itu, kita perlu terus mendorong percepatan transisi energi," tambahnya. ANTARA