BORNEONEWS, Kotim - Meningkatnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) diduga kuat akibat kesengajaan oknum tertentu yang ingin membuka lahan secara cepat melalui jalan pintas. Dalam sebulan terakhir ini, karhutla sepertinya disengaja. Sejak dahulu banyak warga yang terbiasa membakar lahan, membuka areal pertanian. Kebiasaan jelek itu, harus dihilangkan.

“Jangan jadikan perbuatan membakar lahan menjadi kebiasaan, karena hal itu sudah wajib dihilangkan. Demi menjaga kelestarian lahan dan hutan,” ujar Pasi Ops Kodim 1015 Sampit, Kapten Inf Joko Susilo, saat datang memadamkan api kebakaran lahan di Jalan Kapten Mulyono, Kamis (4/8/2016).

Selain unsur kesengajaan, membuang puntung rokok sembarangan juga bisa jadi pemicunya. Karena rumput atau daun kering tidak akan terbakar, kalau tidak ada pemicunya. Sehingga hal itu lah yang menjadi perhatian oleh pihaknya. Sosialisasipun sudah sering dilakukan, baik oleh instansi terkait, TNI/Polri. Namun tetap saja ada yang ngeyel membakar lahannya.

“Memang kalau kebiasaan susah hilang. Jadi, saat-saat tidak ada hujan dalam beberapa hari ini, kami siaga. Kami sudah memepersiapkan diri untuk siaga karhutla,” ungkap Joko.

Kodim 1015 Sampit telah membentuk 19 tim khusus, beranggotakan persenil Kodim, Koramil, Polri, pegawai kecamatan, dan instansi terkait. Tim ini akan bergerak jika terjadi kebakaran lahan. Hal itu dilakukan agar api bisa segera dipadamkan sehingga tidak meluas.

Data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim, sejak awal Juli 2016, di Kota Sampit tercatat ada delapan kali kebakaran lahan. Bahkan memasuki Agustus ini saja sudah ada dua lokasi yang terbakar. Di antaranya di Jalan Karya Bersama, Kecamatan Baamang, Rabu (3/8/2016). Di Jalan Kapten Mulyono, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Kamis (4/8/2016) siang.

Beruntung semua kebakaran itu tidak sempat meluas, karena berhasil dipadamkan oleh para petugas, baik itu dari Damkar, Polisi, TNI, dan juga instansi terkait lainnya. (M. HAMIM/N).