BORNEONEWS, Jakarta- DUNIA wisata modern, tidak lagi terbatas pada objek-objek wisata konvensional. Tetapi objek wisata atau destinasi wisata kini banyak ragamnya. Di perkotaan, supermarket atau yang lebih besar lagi seperti mall, bisa menjadi sebuah tujuan wisata. Bisa menjadi tempat cuci mata.
Di sana bisa melihat barang-barang terbaru, model-model teranyar. Desain-desain unik dan etnik yang sangat khas.
Di mall Thamrin City yang ada di pusat kota Jakarta, bisa kita jumpai desain-desain mode (fashion) yang berkarakter etnik. Itulah gerai milik Jessica Febiani atau yang akrab dipanggil Jezzy. Desainer yang satu ini menyajikan berbagai macam pakaian wanita yang terbuat dari bahan batik dengan corak-desain etnik. Jika datang ke tempat itu, seolah kita bertamasya ke pelosok-pelosok Tanah Air. Karena semua unsur daerah ada di situ.
Berikut dialog borneonews di kawasan Thamrin City dengan Jessica Febiani, desainer muda yang sedang naik daun, yang menyandang gelar Sarjana Ekonomi dan Sarjana Komunikasi dari Binus University itu. Karya-karya desainer yang lahir 20 Februari 1989 ini banyak dipuji karena memberi insiprasi.
Sejak kapan merintis bisnis fashion dan pasar mana saja yang sudah dirambah?
Saya merintis bisnis fashion ini secara otodidak. Tidak secara khusus sekolah desain. Sebenarnya ada beberapa bidang yang saya geluti. Saat ini mencoba memasuki bidang kuliner. Namun tetap saja, yang paling utama adalah fashion.
Pasar produk saya sudah tersebar di kota-kota besar di Indonesia. Terutama di Pulau Jawa, Sumatra, Sulawesi, Bali, Kalimantan , NTT, dan Papua
Untuk luar negeri, penetrasinya juga cukup lumayan. Khusus untuk Eropa misalnya, sudah masuk di Beograd, Italia, Amsterdam, Budhapest, Paris, Austria, London dan juga Australia. Khusus untuk Beograd dan Serbia, di sana ada gerai kita sendiri.
Seperti apa tantangan dan kendala berbisnis, mulai dari rekan bisnis, karyawan atau dari keluarga ?
Soal tantangan dari rekan usaha atau keluarga, memang ada. Sudah pasti ada. Tetapi sejauh ini tidak ada kendala yang begitu signifikan.
Pengalaman pahit seperti apa yang pernah anda alami, terutama ketika berhubungan dengan partner bisnis ?
Suatu usaha di manapun dan kapanpun, memang ada persoalan semacam itu. Selalu saja ada saatnya naik dan turun. Bahkan mengalami hal-hal yang di luar dugaan. Misalnya, saya pernah ditinggal partner saya. Sudah berulang kali menservice customer dengan maksimal, dengan memenuhi permintaanya. Namun pada akhirnya client itu pergi begitu saja tanpa membayar. Waktu itu berulang kali membuat sample produk yang diiinginkan. Tetapi setelah kita penuhi berbagai keinginan itu, tidak ada kelanjutannya. Mereka pergi begitu saja.
Bagaimana caranya anda memulai usaha fashion ini?
Dengan modal yang sangat cekak saya memulai usaha ini. Yaitu modal Rp1,5 juta. Setelah mulai berkembang, saya memberanikan diri pada tahun 2009 memulai gerai di Thamrin City, Jakarta Pusat. Yang pasti, karena sayap terus berkembang, kami belakangan membuka gerai di Eropa dan Amerika.
Apa yang mendorong anda berani membuka usaha fashion, meski kala itu masih berpendidikan SMA?
Iya, saya memulai usaha ini sewaktu masih SMA. Kala itu di kota Bandung ketika sekolah di SMA Bandung, saya memberanikan diri untuk mulai membuka toko pertama Moretosee (baca: more to see) pada tahun 2005. Kala itu saya hanya menjual baju, tas dan sepatu seperti ankle boots, sepatu boot semata kaki dari bahan swead seperti kulit, dan sepatu pesta. Setelah sukses di Bandung, mulai menggarap pasar Jakarta dengan membuka toko di Mall Thamrin City, Jakarta.
Dengan memakai merek Moretosee, dimaksudkan produk yang dibikin akan selalu memiliki model dan corak baru. Sehingga konsumen tidak akan bosan untuk terus mencari apa yang terbaru di Moretosee. Makin banyak pilihan untuk konsumen.
Target pasar produk Moretosee adalah wanita yang ingin tampil modis. Produk Moretosee tidak dibuat secara massal. Ini memberi kesan eksklusif. (*)








