**Borneonews - Sentani**, Majelis Rakyat Papua (MRP) memberikan apresiasi kepada masyarakat adat Papua yang tinggal di wilayah pegunungan terkait dengan keberhasilan dalam membebaskan Pilot Philip Mark Mehrtens. Pilot yang bekerja untuk Maskapai Penerbangan Susi Air ini telah disandera oleh kelompok kriminal bersenjata, yang dipimpin oleh Egianus Kogoya, selama kurang lebih satu setengah tahun. Penyanderaan ini berlangsung sejak Juli 2023 hingga September 2024 di Kabupaten Nduga, Provinsi Papua Pegunungan.
Wakil Ketua Kelompok Kerja (Pokja) Agama, Izak R Hikoyabi, menyatakan bahwa pembebasan Pilot Philip merupakan langkah signifikan yang dihasilkan dari kolaborasi antara masyarakat Papua Pegunungan, pemerintah pusat, pemerintah daerah, serta TNI dan Polri. Menurut Hikoyabi, usaha yang dilakukan oleh berbagai pihak dalam upaya pembebasan pilot asal Selandia Baru ini sangat mengesankan.
Hikoyabi menegaskan pentingnya langkah-langkah konstruktif yang harus diambil oleh semua pihak, baik oleh kelompok kriminal bersenjata maupun pemerintah, agar insiden serupa tidak kembali terjadi. Ia mengindikasikan perlunya peningkatan komunikasi yang baik dengan masyarakat adat, khususnya di wilayah Pegunungan Papua.
Lebih lanjut, Hikoyabi menjelaskan bahwa bagi pihak-pihak yang memiliki kepentingan di daerah terpencil seperti Papua Pegunungan dan Papua Tengah, kerja sama yang efektif sangatlah krusial. Pendekatan ini diharapkan dapat mencegah terjadinya masalah di masa depan. Komunikasi yang baik antara semua pemangku kepentingan, termasuk masyarakat adat, gereja, dan pemerintah daerah, menjadi fondasi penting dalam menjaga hubungan harmonis.
Ia juga menekankan bahwa pihak luar yang berkunjung dengan misi tertentu, seperti program penginjilan, sebaiknya terlebih dahulu membangun hubungan baik dengan tokoh-tokoh lintas agama, adat, gereja, serta pemerintah setempat. Hal ini penting agar situasi yang mengganggu seperti pengalaman Pilot Philip tidak terulang, sehingga ruang dialog dan kerjasama dapat terbuka di daerah pedalaman.
Hikoyabi menyampaikan bahwa Papua bukanlah tanah kosong yang tidak berpenghuni. Setiap jengkal tanah di Papua memiliki pemilik yang harus dihormati oleh para pengunjung. Dalam pandangannya, jika seseorang datang dengan niat baik dan menghormati budaya serta masyarakat setempat, maka mereka akan disambut dengan baik, dan semua bentuk pelayanan dapat berjalan dengan lancar.
Dalam konteks menjangkau wilayah yang sulit, Hikoyabi menekankan bahwa misi pelayanan tidak hanya terbatas pada penginjilan, tetapi juga mencakup sektor-sektor lain yang memerlukan komunikasi serta pemahaman yang baik. Ia percaya bahwa niat baik dari semua pihak dapat berdampak positif dan membawa berkat bagi masyarakat adat di wilayah-wilayah tersebut.
ANTARA
Apresiasi MRP atas Pembebasan Pilot Philip oleh Masyarakat Papua
Bagikan:

JAYAPURA –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Tavares Soroti Penyelesaian Akhir Persebaya Usai Kalah dari PSM
Aliansi Masyarakat Kalteng Melawan Sampaikan Poin Tuntutan
DPKP Kotim Serahkan STD-B kepada Desa Bukit Indah, Data Pekebun Sawit Swadaya Diperkuat
Bobon Santoso Sajikan 3.000 Porsi Makanan untuk Petugas dan Warga Terdampak Karhutla di Tumbang Nusa
Jejak Kreativitas Penulis Kalteng Terabadikan dalam Buku Jejak Tutur di Punggung Aksara
Puncak BIK 2026 di Kobar, Pemkab Dorong Akses Keuangan Menjangkau UMKM hingga Desa
Komentar (0)
Memuat komentar…







