**Borneonews - Jakarta**, Perpustakaan Nasional (Perpusnas) telah merampungkan 100 judul komik yang didasarkan pada naskah kuno. Upaya ini bertujuan untuk menyederhanakan isi dan pesan dari naskah-naskah yang berasal dari Nusantara, sehingga lebih mudah dipahami dan dapat menarik minat kalangan muda.
Pelaksana Tugas Kepala Perpusnas, E Aminudin Aziz, menjelaskan, "Dengan mengalih-visualkan naskah kuno menjadi format komik, kami ingin menyajikan informasi ini dengan cara yang lebih akrab bagi para pembaca." Pemilihan format komik dirasa tepat karena diharapkan dapat mengurangi kesan berat yang seringkali muncul ketika membaca naskah kuno secara langsung.
Lebih lanjut, Aminudin menyampaikan bahwa melalui penulis-penulis kreatif, naskah-naskah tersebut diolah menjadi lebih komunikatif. "Harapannya, generasi muda akan lebih termotivasi untuk membaca," tambahnya.
Aminudin juga mengungkapkan rencana Perpusnas untuk melanjutkan pengalihan media ke format lain, seperti film dan animasi. Ia menegaskan, "Kami akan berusaha membuat film pendek dan animasi. Di Badan Bahasa, kami sudah mencoba mengemas cerita-cerita rakyat menjadi video berbahasa daerah, dan antusiasme masyarakat sangat positif."
Ia menambahkan bahwa perpustakaan perlu mengubah pandangan tradisional sebagai tempat penyimpanan bahan pustaka menjadi lembaga yang juga memproduksi bahan bacaan.
Namun, Aminudin mengakui masih terdapat tantangan dalam membudayakan membaca dan meningkatkan indeks literasi masyarakat. "Hambatan ini sering kali terkait dengan koordinasi yang kurang efektif, di mana kegiatan literasi belum dilaksanakan secara sinergis antara pusat dan daerah," ungkapnya.
Meskipun masih menghadapi berbagai tantangan, keberhasilan Perpusnas dalam mengalih-visualkan naskah kuno menjadi komik telah mendapatkan pengakuan internasional. Mereka menerima penghargaan UNESCO/Jikji Memory of the World Prize edisi ke-10 tahun 2024, sebagai bentuk penghargaan atas konsistensi dalam melestarikan naskah-naskah Nusantara selama dua dekade terakhir.
Direktur Jenderal UNESCO, Audrey Azoulay, menyampaikan ucapan selamat kepada Perpusnas atas prestasi yang diraih, sekaligus menekankan pentingnya manuskrip sebagai alat untuk memahami sejarah, budaya, dan pengalaman kehidupan di masa lalu. "Upaya kolektif untuk meningkatkan pelestarian dan aksesibilitas warisan dokumenter harus terus berlanjut. Saya mengucapkan selamat kepada Perpusnas atas penghargaan yang pantas diterima ini," katanya.
Dengan penghargaan tersebut, Perpusnas menjadi lembaga kesepuluh yang mendapatkan anugerah ini dan juga menjadi yang pertama dari Indonesia.
ANTARA
Perpusnas Luncurkan 100 Komik dari Naskah Kuno untuk Pembaca Muda
Bagikan:

JAKARTA –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Generasi Tua Dayak Tola' Keluhkan Bahasa Daerah yang Kian Menghilang
Tavares Soroti Penyelesaian Akhir Persebaya Usai Kalah dari PSM
Aliansi Masyarakat Kalteng Melawan Sampaikan Poin Tuntutan
DPKP Kotim Serahkan STD-B kepada Desa Bukit Indah, Data Pekebun Sawit Swadaya Diperkuat
Bobon Santoso Sajikan 3.000 Porsi Makanan untuk Petugas dan Warga Terdampak Karhutla di Tumbang Nusa
Jejak Kreativitas Penulis Kalteng Terabadikan dalam Buku Jejak Tutur di Punggung Aksara
Komentar (0)
Memuat komentar…







