BANTEN –
**Borneonews - Tangerang**, Kantor Imigrasi Kelas I Khusus Tempat Pemeriksaan Imigrasi (TPI) di Bandara Soekarno-Hatta (Soetta) berhasil mencatat sekitar 10.834.232 penumpang internasional sepanjang tahun 2024. Angka ini menunjukkan bahwa bandara ini terus menjadi salah satu yang tersibuk di Indonesia dalam hal pelayanan perlintasan internasional. Kepala Bidang TPI Bandara Soekarno-Hatta, Bismo Surono, mengungkapkan bahwa bandara ini melayani rata-rata 44.402 pelintas internasional setiap hari. Dalam konteks ini, pihak Imigrasi berperan penting dalam menjaga pengawasan terhadap lalu lintas orang yang keluar dan masuk ke Indonesia. Melalui data yang ada, jumlah pelintas yang tercatat hingga saat ini menunjukkan signifikan. Hal ini menjadikan Bandara Soetta sebagai pusat transportasi yang sangat penting di negara ini. Bismo juga menjelaskan bahwa berbeda dengan bandara lain, seperti Bandara Ngurah Rai di Bali yang lebih banyak menarik wisatawan, Bandara Soekarno-Hatta memiliki beragam layanan. Layanan tersebut meliputi perjalanan bisnis, investasi, pendidikan, serta penyelenggaraan acara internasional. Lebih lanjut, Bismo menambahkan bahwa Direktorat Jenderal Imigrasi telah mengimplementasikan teknologi *autogate* untuk mempermudah proses pemeriksaan imigrasi. Di TPI Soekarno-Hatta, terdapat 78 unit *autogate* yang tersebar di berbagai terminal internasional. Di Terminal 2 Keberangkatan Internasional, terdapat lima unit *autogate* reguler, serta lima unit di Terminal 2 Kedatangan Internasional. Selain itu, Terminal 3 Keberangkatan memiliki 16 unit *autogate* reguler ditambah dua unit untuk disabilitas. Terminal 3 Kedatangan juga dilengkapi dengan 52 unit *autogate* reguler dan dua unit untuk disabilitas. Bismo melanjutkan bahwa penambahan unit *autogate* akan dilakukan karena terdapat peningkatan penggunaan fasilitas ini. Dalam beberapa bulan terakhir, rata-rata pengguna *autogate* mencapai 54 hingga 57 persen dari total pelintas internasional. Penggunaan *autogate* merupakan bentuk komitmen dari pihak Imigrasi untuk mendukung digitalisasi sistem keimigrasian dan sejalan dengan perkembangan teknologi. Sosialisasi mengenai fasilitas ini terus ditingkatkan agar lebih banyak pelintas, termasuk warga asing dan anak-anak di atas enam tahun, dapat memanfaatkannya secara maksimal. ANTARA