**Borneonews - Jakarta**, Kementerian Pertanian (Kementan) telah menegaskan bahwa para mahasiswa dan sarjana di bidang pertanian memiliki peran yang sangat penting dan strategis dalam pengembangan pertanian modern di Indonesia. Hal ini sejalan dengan upaya pencapaian swasembada pangan yang diinginkan.
Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian, Idha Widi Arsanti, menggarisbawahi pentingnya penerapan teknologi untuk menarik minat generasi muda agar mau berkarir di sektor pertanian. Ia mengatakan bahwa banyak anak muda beranggapan bahwa bekerja di lahan pertanian identik dengan kondisi yang panas dan kotor. Oleh karena itu, Kementan berupaya memperkenalkan *alsintan* (alat dan mesin pertanian) modern yang menggunakan traktor dan *combine*, sehingga dapat mempermudah pekerjaan para petani.
Melalui program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM), Kementan berkomitmen untuk mendorong pengembangan sumber daya manusia unggul dalam sektor pertanian. Program ini memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mendapatkan pengalaman langsung dalam menghadapi berbagai tantangan pertanian modern, termasuk perubahan iklim, diversifikasi pangan, dan pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan.
Arahan Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, juga sejalan dengan inisiatif ini, di mana pemerintah terus berupaya melakukan reformasi dari pertanian tradisional menuju pertanian modern yang lebih efisien. Diharapkan, pertanian modern dapat menarik minat kaum muda, terutama dalam perspektif bonus demografi yang akan dihadapi Indonesia.
Program MBKM yang dicanangkan oleh Kementerian Pertanian juga mencakup program Magang dan Studi Independen Bersertifikat (MSIB). Saat ini, lebih dari 1.100 mahasiswa mengikuti program ini, yang melibatkan 278 alumni dari Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) dan Politeknik Enjiniring Pertanian Indonesia. Hingga saat ini, Kementan telah memberangkatkan lebih dari 3.000 mahasiswa dalam keterlibatan mereka di program MBKM.
Program ini merupakan hasil kerjasama dengan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia, dengan tujuan memberikan mahasiswa pengalaman yang komprehensif dalam berbagai aspek pertanian modern melalui modul pembelajaran yang terstruktur. Salah satu modul yang ditawarkan adalah Agribisnis Lahan Rawa, yang mendidik mahasiswa tentang cara memanfaatkan lahan rawa dengan potensi tinggi namun sering kali kurang dimanfaatkan secara optimal.
Modul lain, seperti Pengembangan Padi Rawa Terpadu, memberikan pengetahuan mengenai peningkatan produktivitas padi di lahan rawa dengan menerapkan pendekatan terpadu serta memanfaatkan teknologi terbaru. Terdapat juga modul tentang Pengelolaan Lahan Rawa yang berfokus pada teknik pengelolaan berkelanjutan demi menjaga kelestarian lingkungan, sambil berupaya meningkatkan hasil pertanian.
Program MBKM juga mencakup Kementan Leadership Programme, yang berfungsi untuk melatih mahasiswa agar mampu memimpin proyek pertanian berbasis inovasi, data, dan teknologi. Mahasiswa diberikan peluang untuk merancang dan melaksanakan program nyata di lapangan, yang akan memperkuat keterampilan kepemimpinan mereka.
Melalui modul Teknologi Mekanisasi Pertanian, mahasiswa diperkenalkan pada berbagai teknologi yang dapat meningkatkan efisiensi dan produktivitas lahan pertanian, mulai dari pengolahan hingga distribusi hasil pertanian. Modul Pemberdayaan Petani Berbasis Korporasi bertujuan untuk membantu petani menjadi lebih mandiri dalam mengelola bisnis pertanian mereka, serta meningkatkan akses terhadap pasar dan modal.
Inneke Kusumawaty, Plt. Kepala Pusat Pendidikan Pertanian, menyampaikan bahwa program MBKM memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk terlibat langsung dalam pengelolaan pertanian dari hulu hingga hilir. Ia berharap, mahasiswa milenial mampu mengelola lahan, teknologi *alsintan*, dan manajemen panen serta pasca panen secara modern, sehingga dapat menghasilkan pertanian yang lebih efisien dan menguntungkan.
Mahasiswa yang mengikuti program MBKM tersebar di sepuluh provinsi di Indonesia, termasuk Papua Selatan, Kalimantan Tengah, dan Jawa Barat, di mana mereka berperan aktif dalam pengelolaan lahan serta penerapan teknologi pertanian modern. Mereka juga berkontribusi pada pembentukan koperasi untuk memperkuat kelembagaan petani.
Salah seorang peserta program MBKM, Githa Nirmala, mahasiswa jurusan Manajemen Rekod dan Arsip dari Universitas Indonesia, membagikan pengalamannya selama mengikuti program ini. Githa menjelaskan bahwa kegiatan ini memberinya wawasan mengenai kebijakan pertanian nasional dari perspektif pemerintah. Ia sangat menghargai pengalaman tersebut, terutama dalam melihat bagaimana *teknologi* dan *inovasi* diterapkan dalam pertanian untuk sehari-hari oleh para petani.
Melalui upaya program MBKM ini, diharapkan semakin banyak generasi muda yang terinspirasi untuk terjun ke dalam sektor pertanian modern dan berkontribusi terhadap pertanian Indonesia yang lebih efisien dan berkelanjutan.
ANTARA
Peran Mahasiswa dan Sarjana Pertanian dalam Mewujudkan Pertanian Modern
Bagikan:

JAKARTA –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Bupati Kobar Bermalam di TNTP, Tinjau Pemadaman Karhutla dan Kebutuhan Relawan
Adyos/Yayang Sabet Perunggu para Tenis Meja Ganda Putra Kelas MD8
PLN Berencana Sewa PLTD 20 MW Selama Lima Tahun di Kapuas
Polres Bartim Ajak Masyarakat Peduli Lingkungan Lewat Green Policing di Pasar
Fredy Setiawan Raih Perak Para Bulu Tangkis, Akui Kurang Puas
Kholidin/Noviera Melaju ke Final para Panahan Asian Para Games 2026
Komentar (0)
Memuat komentar…







