BANTEN –
**Borneonews - Lebak, Banten**, Sejumlah petani cabai yang beroperasi di Kabupaten Lebak, Banten, mengungkapkan kesulitan dalam memasarkan hasil panen mereka. Keadaan ini menyebabkan harga cabai mengalami penurunan drastis, dari semula Rp40.000 menjadi hanya Rp15.000 per kilogram. Sarowi, seorang petani berusia 50 tahun yang berasal dari Kecamatan Cikulur, menyatakan bahwa mereka kini terjebak dalam kebingungan. Biasanya, tengkulak akan menampung hasil panen cabai merah keriting untuk didistribusikan, namun saat ini aktivitas tersebut tidak berjalan. Situasi ini membuat petani merasa sangat tertekan, terutama mengingat mereka baru saja melakukan panen pada bulan September. Dia menambahkan bahwa petani yang melakukan panen pada bulan ini berpotensi mengalami kerugian signifikan. Hal ini disebabkan oleh harga jual yang tidak sebanding dengan biaya produksi yang mereka keluarkan. Saat ini, para petani menghadapi tantangan besar untuk menjual komoditas cabai yang telah mereka panen. Sebelumnya, tengkulak akan membeli hasil panen tersebut untuk disalurkan ke Pasar Induk Tanah Tinggi di Tangerang, tetapi dalam kondisi saat ini, hal tersebut tidak terjadi. Kemungkinan besar, tengkulak memilih untuk membeli cabai dari daerah lain, seperti Jawa Barat dan Jawa Tengah, yang menyebabkan terjadi oversupply di pasar dan mengakibatkan penurunan harga cabai. Sarowi melanjutkan, "Saat ini, kami hanya bisa melayani permintaan lokal dengan harga sekitar Rp15.000 per kilogram, dan jumlah yang bisa kami jual pun sangat terbatas, paling banyak 10 hingga 20 kilogram per hari." Ia menjelaskan bahwa biasanya, panen cabai keriting merah dapat memberikan pendapatan sekitar Rp35 juta dari lahan seluas 3.000 meter persegi. Namun, saat ini, keadaan berbalik dan dipastikan bahwa mereka akan mengalami kerugian, terutama karena tidak ada tengkulak yang bersedia menampung hasil panen mereka. Para petani berharap agar pedagang besar di daerah Rangkasbitung maupun Pasar Induk Tanah Tinggi dapat kembali membeli cabai dari petani di Lebak dengan harga yang lebih stabil. Sarowi menegaskan, "Kami sangat berharap ada yang mau menampung hasil panen tersebut dengan harga yang menguntungkan, sehingga perekonomian kami sebagai petani tidak semakin terpuruk." Di sisi lain, Sumardi, seorang petani berumur 55 tahun dari Warunggunung, juga merasakan dampak yang sama. Dia menyatakan kebingungan atas penurunan harga cabai yang drastis, dari Rp40.000 menjadi Rp15.000 per kilogram, serta hilangnya tengkulak yang biasanya menampung hasil panen. "Situasi ini menyebabkan petani merugi, terutama jika dalam satu minggu ke depan tidak ada perubahan, maka dapat berdampak semakin buruk," jelasnya. Kepala Bidang Perdagangan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Lebak, Yani, menjelaskan bahwa penurunan harga berbagai jenis cabai tersebut berkaitan erat dengan masuki masa panen di daerah-daerah penghasil cabai, seperti Jawa Barat dan Jawa Tengah. Sebagai contoh, harga cabai keriting merah yang sebelumnya mencapai Rp55.000 kini turun menjadi Rp25.000 per kilogram. Begitu juga dengan harga cabai merah besar yang sebelumnya berada di angka Rp50.000, kini melemah menjadi Rp20.000 per kilogram. Yani menuturkan dengan optimis, "Kami percaya bahwa pasokan cabai akan melimpah di pasar tradisional seiring dengan masuknya hasil panen dari berbagai daerah yang menjadi penghasil cabai." ANTARA