**Borneonews - Washington**, Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Antonio Guterres, menyatakan kekhawatirannya yang mendalam terkait situasi di El Fasher, ibu kota Negara Bagian Darfur Utara. Dalam pernyataan yang disampaikan pada Sabtu (21/9), Guterres merespons laporan mengenai serangan berskala besar yang dilancarkan oleh Pasukan Pendukung Cepat (RSF) di wilayah tersebut.
Sang Sekjen menyerukan kepada Letnan Jenderal Mohamed Hamdan 'Hemedti' Dagalo untuk bertindak dengan bertanggung jawab dan segera memberikan perintah penghentian seluruh serangan yang dilakukan oleh RSF. Juru bicaranya, Stephane Dujarric, menegaskan bahwa adalah hal yang tidak dapat diterima bagi pihak-pihak yang terlibat dalam konflik untuk terus mengabaikan panggilan untuk mengakhiri permusuhan. Setiap peningkatan dalam kekerasan ini berpotensi memperburuk situasi hingga menimbulkan konflik lebih lanjut di sepanjang garis perpecahan antarkomunitas di seluruh Darfur.
Guterres juga menekankan bahwa gencatan senjata bukan hanya diperlukan, tetapi harus menjadi prioritas mendesak, baik di El Fasher maupun di zona-zona konflik lainnya di Sudan. Juru bicara PBB menyampaikan bahwa kondisi kemanusiaan di daerah tersebut telah mencapai titik kritis, di mana ratusan ribu warga sangat mengandalkan bantuan.
Lebih jauh, dia menegaskan bahwa semua pihak yang terlibat dalam konflik memiliki kewajiban yang jelas di bawah hukum kemanusiaan internasional untuk melindungi warga sipil. Serangan harus dihindari, terutama yang diarahkan kepada masyarakat sipil dan infrastruktur mendasar; perhatian yang konsisten harus diberikan untuk menjamin keselamatan mereka.
Guterres juga mengingatkan bahwa Utusan Khususnya, Ramtane Lamamra, terus berupaya untuk mendorong proses perdamaian. Dujarric menambahkan bahwa pemimpin PBB siap memberikan dukungan penuh terhadap setiap upaya yang tulus untuk menghentikan kekerasan dan menuju tercapainya perdamaian. Di samping itu, organisasi kemanusiaan juga telah menyatakan kesiapan untuk segera meningkatkan bantuan di El Fasher dan wilayah-wilayah lain yang memerlukan di seluruh Sudan.
Sejak April 2023, Sudan telah terjerumus ke dalam konflik berdarah yang berkepanjangan antara angkatan bersenjata, yang dipimpin oleh Jenderal Abdel Fattah al-Burhan, dan RSF yang dipimpin oleh mantan wakilnya, Dagalo. Menurut data dari PBB, setidaknya 12.260 orang telah kehilangan nyawa, sementara lebih dari 33.000 lainnya terluka akibat perseteruan ini.
Krisis kemanusiaan yang tak henti-hentinya berlangsung semakin memburuk, dengan hampir 6,8 juta orang terpaksa mengungsi dari tempat tinggal mereka untuk mencari keselamatan, baik di dalam Sudan maupun di negara-negara tetangga. Beberapa kesepakatan gencatan senjata yang telah dimediasi oleh Arab Saudi dan Amerika Serikat juga telah gagal untuk menghentikan siklus kekerasan yang menyengsarakan.
ANTARA
PBB Desak Penghentian Serangan di El Fasher, Sudan yang Krisis
Bagikan:

JAKARTA –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Imam/Fairuz Tempati Peringkat Keempat AVC Suma Open 2026
Kemenperin Bidik Industri Animasi Perluas Penyerapan Tenaga Kerja
Wamenekraf Ajak Pelaku Ekraf Daerah Bidik Pasar Lebih Luas
Gempa Magnitudo 7,0 Guncang Ogasawara Jepang
MotoGP Australia 2026 Dibatalkan Menyusul Moto2 dan Moto3
Kabid Humas Polda Kalteng Imbau Waspada Pinjaman Online Ilegal
Komentar (0)
Memuat komentar…







