JAMBI –
**Borneonews - Jambi**, Lantunan surah-surah pendek dari *kitab suci Al-Quran* sudah mulai terdengar dari sudut mushalla yang baru berdiri di wilayah eks lokalisasi Payo Sigadung, Kota Jambi. Mushalla tersebut, yang dikenal dengan nama Mushalla Al-Arva, mulai aktif digunakan untuk berbagai kegiatan keagamaan, terutama mengaji bagi anak-anak setempat. Mushalla ini dibangun oleh Wiwin AS, seorang wanita berusia 34 tahun, yang mengonversi gedung bekas *room dan bar* yang dimiliki keluarganya menjadi tempat ibadah. Pada awalnya, keinginan untuk mendirikan mushalla ini muncul dari permintaan putranya, Arva, yang selalu berharap adanya tempat untuk beribadah. Wiwin mengingat suasana saat buah hatinya itu meminta untuk membangun masjid. “Bunda, kapan kita buat masjid?” tanya Arva, yang membuat Wiwin bertekad untuk merealisasikan impian itu, meski mushalla yang dibangun bukanlah masjid besar. Proses pembangunan Mushalla Al-Arva mulai dilakukan pada bulan November 2023, dengan memanfaatkan dana pribadi dari Wiwin. Ia berharap, mushalla ini bisa menjadi tempat persembunyian dan ibadah bagi warga sekitar tanpa adanya beban biaya. Aktivitas di mushalla pun mulai menggeliat sejak Februari 2024, ketika masyarakat datang untuk melaksanakan shalat dan anak-anak mulai menghabiskan waktu di sana. Pada bulan Ramadhan yang lalu, anak-anak di lingkungan sekitar mengajukan permohonan kepada Wiwin untuk menyediakan pengajaran Al-Quran. Mendapatkan respons positif, Wiwin segera mendatangkan empat guru ngaji. Dia menanggung biaya untuk pengajaran tersebut dengan harapan anak-anak dapat belajar agama tanpa adanya tekanan finansial. “Kami ingin anak-anak bersemangat belajar tanpa terbebani biaya,” kata Wiwin. Walaupun ada tantangan dan polemik yang muncul terkait keberadaan mushalla, Wiwin tetap berkomitmen untuk membimbing anak-anak mengaji. Beberapa orang tua terlihat ragu untuk mengizinkan anak-anak mereka belajar di mushalla ini. Namun, Wiwin dengan sabar membujuk mereka untuk memberikan kesempatan bagi anak-anak. Melihat antusiasme murid-muridnya menjadi pemicu semangatnya untuk terus melanjutkan program tersebut. Setiap sore hari, Mushalla Al-Arva dipenuhi dengan suara ceria anak-anak yang berkumpul. Mereka tidak hanya melakukan shalat, tetapi juga mengerjakan hafalan dan belajar ilmu agama. Sekitar 40 anak dari berbagai usia, mulai dari lima tahun hingga remaja, datang untuk mengikuti kelas mengaji di mushalla tersebut. Menariknya, terdapat juga anak-anak dari luar kawasan lokalisasi yang tertarik untuk belajar. Wiwin juga memperhatikan kebutuhan anak-anak dengan menyediakan makanan gratis setiap malam setelah shalat Isya. Ini bukan hanya wujud kepedulian, tetapi juga sebagai cara untuk menarik minat anak-anak agar lebih bersemangat datang ke mushalla. Setiap malam, dia menyiapkan 20 hingga 40 porsi makanan, dan mengetahui anak-anak bahagia saat jam makan tiba memberikan kebahagiaan tersendiri bagi Wiwin. Seorang pengajar di Mushalla Al-Arva, Khozin Nawawi, menambahkan bahwa mengajar di lingkungan seperti ini adalah tantangan tersendiri. Ia percaya bahwa pendidikan agama dapat membantu mengubah cara pandang masyarakat tentang kawasan eks lokalisasi ini. “Tidak semua yang tampak buruk itu tidak dapat diperbaiki. Pendidikan bisa menjadi langkah awal untuk mengubah stigma negatif tersebut,” ujarnya. Dengan upaya yang dilakukan oleh Wiwin dan guru-guru di Mushalla Al-Arva, diharapkan anak-anak di kawasan ini mampu mengubah nasib mereka melalui pendidikan agama. Kini, tempat tersebut bukan hanya menjadi tempat beribadah, tetapi juga sebagai wahana untuk membentuk karakter anak-anak yang berakhlak baik dan berprestasi di masa depan. ANTARA