PALU –
**Borneonews - Palu**, Dinas Kesehatan Kota Palu terus melakukan berbagai upaya untuk menurunkan prevalensi *stunting* atau kekerdilan pada anak yang masih menjadi tantangan di ibu kota Sulawesi Tengah. Melalui langkah-langkah intervensi yang terencana, pemerintah daerah berupaya mengatasi masalah ini. Kepala Dinas Kesehatan Kota Palu, Rochmat Jasin, menjelaskan bahwa berbagai pendekatan telah diterapkan dalam rangka menurunkan jumlah kasus *stunting* di kota ini. Ia menekankan pentingnya Kota Palu sebagai representatif Provinsi Sulawesi Tengah untuk memiliki angka *stunting* yang rendah. "Kami berkomitmen untuk memperbaiki status gizi anak-anak di daerah ini," ungkapnya. Dalam penanganan *stunting*, Pemkot Palu menerapkan kolaborasi lintas sektor yang melibatkan berbagai pihak melalui pendekatan aksi konferensi. Salah satu tugas penting Dinas Kesehatan adalah melakukan edukasi tentang pencegahan serta intervensi pemenuhan gizi. Ini dilakukan melalui pemberian makanan tambahan kepada anak-anak dan ibu hamil, serta promosi kesehatan yang mengedukasi masyarakat. Rochmat menambahkan, Posyandu berfungsi sebagai wadah yang efektif dalam penanganan teknis, terutama dalam pengukuran tinggi dan berat badan anak. Dengan demikian, langkah-langkah yang diambil dapat lebih tepat sasaran. Menurut data dari Survei Kesehatan Indonesia (SKI) yang dirilis oleh Kementerian Kesehatan, tren prevalensi *stunting* selama tiga tahun terakhir menunjukkan perkembangan yang cukup positif. Dimulai dari angka 23,9 persen pada tahun 2021, prevalensinya meningkat menjadi 24,7 persen pada tahun 2022, namun berhasil menurun menjadi 22,1 persen pada tahun 2023. Selanjutnya, menggunakan data dari elektronik Pencatatan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (e-PPGBM) tahun 2024, tercatat bahwa tingkat *stunting* di Kota Palu mengalami penurunan signifikan. Dari 7,9 persen pada tahun sebelumnya, angka tersebut menurun menjadi 6,19 persen, dan kini berada pada 6,16 persen. Rochmat juga menyatakan bahwa Pemkot Palu berkomitmen untuk terus memfokuskan upaya pada pemenuhan gizi bagi anak-anak dan ibu hamil. "Kami berharap dengan adanya kolaborasi yang telah terbangun, Pemkot dapat menekan prevalensi *stunting* hingga titik yang paling rendah," tutur Rochmat. Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa Pemkot Palu menargetkan penurunan prevalensi *stunting* menjadi 14 persen pada tahun 2024. Upaya ini diharapkan dapat memberikan dampak positif dalam meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat di wilayah tersebut. ANTARA