AMBON –
**Borneonews - Ambon**, Yayasan Lingkar Pemberdayaan Perempuan dan Anak (Lappan) bekerja sama dengan Research of Community Mental Health Initiative (RoCMHI) dan Forum Anak Komunitas Waihoka, Amantelu, serta Gunung Malintang di Kota Ambon merayakan Hari Perdamaian Internasional. Perayaan ini berlangsung dengan mengusung tema penting: membangun budaya damai. Kegiatan tersebut menampilkan ekspresi berupa puisi, cerita pendek, dan gambar yang mengangkat isu perdamaian serta kehidupan komunitas *basudara*. Istilah ini merujuk pada keselarasan dan kebersamaan orang-orang di Maluku meskipun dalam perbedaan. Direktur Yayasan Lappan, Baihajar Tualeka, menekankan bahwa tema ini sangat relevan dengan kenyataan yang dihadapi baik pada tingkat global, nasional, maupun lokal. Melalui momen perayaan ini, pihak penyelenggara ingin menanamkan nilai-nilai perdamaian kepada anak-anak yang berusia antara 10 hingga 17 tahun, yang merupakan generasi yang tumbuh dalam kondisi pascakonflik dan sering kali hidup dalam lingkungan yang terpisah. Tualeka menyoroti betapa terbatasnya ruang interaksi yang dimiliki oleh anak-anak tersebut. Banyak dari mereka bersekolah di institusi pendidikan yang homogen, sehingga kesempatan untuk berinteraksi dengan teman-teman dari latar belakang yang berbeda menjadi sangat jarang. Kondisi ini, menurutnya, memperkuat pemisahan sosial dan menyulitkan pemahaman terhadap keberagaman serta toleransi antar sesama. Oleh karena itu, anak-anak diajarkan untuk saling mengenal satu sama lain, menerima perbedaan, serta menumbuhkan rasa saling menghargai. Pendekatan yang diambil tidak hanya bersifat edukatif tetapi juga emosional. Anak-anak diajak untuk melihat diri mereka dan orang lain sebagai bagian dari komunitas yang lebih luas, yang terdiri dari individu-individu dengan kekuatan serta kelemahan masing-masing. Kegiatan ini memberikan pemahaman mendalam tentang penerimaan diri, mengingat bahwa setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan. Selain itu, anak-anak diajarkan untuk menghayati konsep hidup berdampingan dalam keberagaman, seperti yang tercermin dalam karya seni mereka berupa puisi, cerita pendek, dan gambar, yang merupakan refleksi dari konteks kultural orang Maluku yang kaya. Melalui kreativitas yang ditampilkan, anak-anak diharapkan dapat merefleksikan pemahaman mereka tentang keragaman serta perdamaian dalam rutinitas sehari-hari mereka. Di akhir acara, Tualeka menekankan bahwa nilai-nilai damai yang diperkenalkan akan diharapkan mampu diinternalisasi oleh anak-anak, sehingga menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari mereka. ANTARA