SURABAYA –
**Borneonews - Surabaya**, Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, menegaskan komitmennya untuk memberikan edukasi kepada generasi muda melalui pementasan teatrikal yang menggambarkan peristiwa perobekan bendera Belanda. Kegiatan ini berlangsung di depan Hotel Majapahit, yang dulunya dikenal sebagai Hotel Yamato, pada hari Minggu. Pertunjukan ini disusun dalam bentuk drama musikal bertajuk *"Berkibarlah Benderaku"*, di mana Eri Cahyadi berperan langsung sebagai pemimpin pertunjukan. Ia menjelaskan bahwa acara teatrikal ini bertujuan untuk mengingatkan generasi muda akan pentingnya sejarah kemerdekaan Indonesia, khususnya peristiwa yang terjadi pada 19 September 1945. “Pada kesempatan ini, kita mengingat perobekan bendera Belanda yang kemudian digantikan dengan bendera Merah Putih. Penting bagi anak-anak muda, terutama siswa-siswa SMA, untuk mengetahui sejarah ini dan bahwa peristiwa tersebut berlangsung di sini, di lokasi Hotel Yamato yang kini dikenal sebagai Hotel Majapahit,” ujarnya. Eri Cahyadi tidak hanya memimpin pementasan di area Tunjungan, tetapi juga melakukan penghormatan kepada bendera Merah Putih seraya menyanyikan lagu kebangsaan *Indonesia Raya*. Dalam pertunjukan ini, dia mengambil peran sebagai Residen Sudirman dan membacakan puisi yang berjudul *Arek Suroboyo*. Pembacaan puisi ini berhasil membangkitkan semangat para penonton, khususnya para generasi muda yang hadir di lokasi. Pelaksanaan teatrikal refleksi perobekan bendera pada tahun 2024 ini, menurut Eri Cahyadi, berbeda dari penyelenggaraan di tahun-tahun sebelumnya. Dengan inovasi ini, diharapkan masyarakat yang menyaksikan pertunjukan tidak merasa bosan, meskipun substansi pendidikan sejarah yang terkandung tetap dijaga. “Setiap tahun, format teatrikalnya berbeda, namun inti ceritanya tetap sama. Dengan penanganan yang unik, kita bertujuan agar penonton tidak merasa jenuh, namun tetap merasakan semangat bahwa Surabaya adalah tempat bersejarah di mana terjadi perobekan bendera Belanda menjadi bendera Merah Putih,” jelasnya. Eri Cahyadi juga menekankan pentingnya kolaborasi dan sinergi dalam membangun Kota Surabaya. “Seperti yang dapat kita saksikan hari ini, berbagai pihak berkumpul untuk menyajikan pertunjukan teatrikal terbaik,” tambahnya. Salah satu penonton, Maya Arsinta, mengungkapkan rasa kagumnya terhadap pertunjukan ini. Ia merasa pertunjukan teatrikal memberinya pemahaman yang lebih jelas tentang peristiwa perobekan bendera yang sebelumnya hanya ia ketahui melalui buku sejarah. "Saya tahu tentang sejarah ini dari pelajaran, tetapi melihat teatrikalnya adalah pengalaman pertama. Kini saya memiliki gambaran yang jelas tentang peristiwa tersebut," ujarnya. Sebagai generasi muda, Maya menyatakan kebanggaannya terhadap Kota Surabaya yang memiliki begitu banyak sejarah yang terkait dengan kemerdekaan Indonesia. "Saya bangga dengan Kota Surabaya. Jika ada pertunjukan seperti ini tahun depan, saya pasti akan menontonnya lagi," katanya. Sutradara dari Teatrikal Refleksi Perobekan Bendera, Heri Prasetyo—yang akrab disapa Heri Lentho—menjelaskan bahwa tahun ini pertunjukan dibuka dengan suasana pascakemerdekaan. Pementasan juga menyajikan adegan persekusi yang dialami oleh wartawan Abdul Wahab dari *ANTARA* pada saat itu oleh pemerintah Hindia Belanda ketika ia mencoba mengambil foto peristiwa perobekan bendera. “Ini adalah bagian yang berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, di mana adegan ini memperlihatkan bagaimana wartawan Abdul Wahab dihadapi oleh pemerintah kolonial saat mengamankan foto-fotonya, yang kini menjadi saksi bisu perobekan bendera,” papar Heri. Setelah adegan pembuka, pertunjukan berlanjut dengan adegan heroik yang menampilkan perobekan bendera oleh para arek-arek Suroboyo. Pertunjukan ini ditutup dengan suara merdu dari Fadila Intan yang menyanyikan lagu *"Berkibarlah Bendera Negeriku"*. ANTARA