BORNEONEWS, Palangka Raya - Rakawindra Dwi Putra, balita delapan bulan yang mengidap Atresia Bilier atau saluran empedu di dalam maupun di luar hati tidak berkembang normal, akan dirujuk ke Rumah Sakit Umum dr Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta pada Sabtu (6/8/2016) besok pagi.

"Besok bayi Raka akan kita rujuk ke RSCM Jakarta. Berangkat pagi menggunakan pesawat Garuda," kata Kabid Diklit Pengembangan SDM dan Humas RSUD dr Doris Sylvanus Palangka Raya Theodorus Sapta Atmadja kepada Borneonews, Jumat (5/8/2016).

Theo, sapaan akrabnya, menuturkan keberangkatan Raka akan didampingi dua tim medis dari RSUD dr Doris Sylvanus. Mereka adalah dr Carolin, sebagai dokter umum anak, dan Hera, seorang perawat anak.

"Doris sesuai arahan direktur menyiapkan dua tenaga medis mendampingi Raka selama perjalanan, sekalian membantu mencarikan akomodasi tempat tinggal selama perawatan," ungkap Theo.

Mengenai administrasi, pihaknya sudah berkoordinasi dengan BPJS. Hasilnya, Raka akan menjalani perawatan di ruang kelas II. Semua biaya akan ditanggung pihak BPJS.

Menurut Theo, tarif BPJS bukanlah tarif fee for service, namun INA CBGs (Indonesia Case Based Groups) atau tarif paket, berdasarkan diagnosa penyakit.

"Kalau fee for service misalnya, pasien operasi usus buntu dari mulai UGD berapa, rawat inapnya berapa, operasinya berapa, obatnya berapa, dan laboratorium berapa. Itu namanya fee for service. Tapi kalau paket itu, itu adalah paket pelayanan. Jadi berdasarkan diagnosa. Diagnosa misalnya thypus ya, dirawat dikelas ini, klaimnya segini. Selama dirawat di kelasnya, semua free. Artinya ditanggung BPJS," jelas Theo.

Namun demikian, lanjut Theo, jika sang pendonor cangkok hati tidak memiliki BPJS, maka biaya akan ditanggung pihak keluarga Raka. "Terapi dari atresia bilier adalah cangkok hati. Kalau pendonornya tidak ada BPJS, maka penanggung jawab adalah yang menerima donor hati tersebut. Artinya keluarga Raka," katanya.

"Kemudian, BPJS dan RS tidak menanggung transportasi dan akomodasi keluarga pasien. Tidak bisa diklaim di BPJS. Itu juga menjadi tanggung jawab pihak keluarga," bebernya.

Theo menambahkan, keluarga Raka sudah mendapat sumbangan dari banyak pihak kurang lebih sekitar Rp35 juta. "Setahu saya sudah dapat sumbangan. Dari update terakhir, sekitar Rp35 juta. Itu diluar dari Dinas Sosial Kota Palangka Raya yang membantu untuk transportasi," tuturnya. (BUDI YULIANTO/m)