BORNEONEWS, Sampit - Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), mengevakuasi 17 satwa liar yang langsung diserahkan oleh sejumlah warga per Januari-Agustus 2016.
Komandan BKSDA Sampit Muriansyah mengatakan, satwa liar yang diserahkan warga didominasi oleh orangutan (OU) sebanyak 11 ekor, dengan rata-rata berumur balita yakni satu hingga dua tahun.
"Kebanyakan yang masih balita, yang mena diduga karena ditinggal induknya atau sang induk ada yang dibunuh," ujar Muriansyah, Jumat (5/8/2016).
Banyaknya jumlah OU yang diserahkan ke BKSD tersebut bukan tanpa sebab. Diman Muriansyah menjelaskan, habitatnya di alam liar sudah mulai berkurang, akibat kebakaran lahan yang melanda daerah Kotim di 2015. Sehingga makanannya di hutan berkurang. Hal itupun membuat satwa dilindungi itu masuk ke daerah pemukiman, guna mencari makan agar bisa bertahan hidup.
"Memang kebakaran lahan memberi dampak yang besar, terutama terhadap satwa yang ada di hutan. Karena mereka akan kehilangan tempat tinggal," kata Muriansyah.
Selain orangutan, BKSD juga menerima dua satwa dilindungi jenis Owa-owa, kelasi dua ekos, buaya muara satu ekor, dan bakot satu ekor.
Jumlah 17 ekor satwa liar tersebut memang lebih sedikit di banding pada 2015 lalu, yang mencapai 25 ekor. Namun hal itu masih pertengahan tahun, sehingga bisa saja nantinya akan lebih meningkat lagi kesadaran warga untuk menyerahkan satwa dilindungi kepada BKSDA.
"Untuk satwa dilindungi tersebut tidak hanya diserahkan oleh warga Kotim, namun juga Kabupaten Seruyan," ungkap Muriansyah.
Dengan adanya penyerahan tersebut, Muriansyah sangat berterimakasih kepada warga yang sudah sadar untuk menjaga habitat satwa dilindungi. Sehingga tujuan agar kepunahan hewan langka di daerah ini tidak terjadi, bisa tercapai. (M HAMIM/m)








